019

2K 139 43
                                        

Setelah menghabiskan beberapa jam di rumah sakit, mereka akhirnya bisa keluar setelah situasi berhasil dikendalikan berkat arahan dari Fatah. Kini, malam semakin larut, dan udara di luar mulai terasa lebih dingin daripada sebelumnya.

"Ngapain lu ngikutin gua?" Rian bertanya dengan nada sengit begitu menyadari bahwa Sultan berjalan menempelinya sejak keluar dari kamar rawat tadi.

"Ih, tolol! Kan tadi kita kesininya boncengan naik motor lu, berarti ini pulangnya juga bareng lah," balas Sultan yang kemudian mencebik geram.

Rian balas mendengus, matanya tetap melirik dengan sinis, meski hanya berniat menjahili. "Dih bodo amat, lu mah balik aja sono sendiri!" katanya.

"Mana bisa begitu? Bareng lah kita!" Dalam sekejap mata, Sultan langsung meraih lengan Rian dan mendekapnya erat. Bertujuan agar laki-laki itu tidak bisa pergi meninggalkannya.

Langkah kaki Rian langsung terhenti seakan membeku saat mendapatkan aksi mendadak itu. Dia menelan ludah dengan kasar, sementara jantungnya berdegup kencang dalam tempo yang tidak beraturan. Semua reaksinya ini hanya karena tangan Sultan yang melingkar di lengannya. Sial, sepertinya pengaruh Sultan terhadap dirinya memang terlalu kuat untuk diabaikan.

"Iya, iya! Ini lepasin dulu tangan gua, gausah pake pegang-pegang segala! Gua alergi sama lu," kata Rian seacaknya yang keluar dari mulut, berbanding terbalik dengan apa yang hatinya rasakan.

"Idih, anjing!" Sultan mendengus kesal, lalu tanpa aba-aba mencubit lengan Rian dengan cukup kuat.

"Aw! Sakit jing!" Rian berjengit sakit, refleks menahan tangan Sultan agar tidak kembali mencubit lengannya. Dia mau marah, tapi di saat bersamaan, bagian di dalam hatinya terasa aneh. Bukan sakit, tapi geli. Perasaan yang membuatnya semakin terdiam.

Kemudian, sebelum Rian bisa membahas soal cubitan itu, pandangannya tanpa sengaja menangkap sesuatu di kejauhan. "Eh, itu bukannya bocah Alter yang tadi di dalem?" tanyanya sambil menunjuk pada dua orang yang sedang berdiri agak jauh dari mereka.

"Hm?" Sultan mengikuti arah tunjukan Rian, matanya sedikit menyipit untuk memperhatikan lebih jelas. "Lah iya itu mereka. Ngomongin apaan ya di situ?" gumamnya.

"Ya mana gua tau, bego! Kan gua masih di sini, bukan lagi nimbrung ngobrol sama mereka," jasab Rian yang hanya ingin membuat Sultan kesal.

Sultan mendelik. "Itu cuman pertanyaan retorik ya, anjing. Gausah lu jawab!"

Rian hanya mengeluarkan gumaman 'oh' sembari mengangguk dan kembali melihat pada dua orang itu. Sialnya, dia tidak bisa fokus memperhatikan karena lagi dan lagi dia kembali terdistraksi dengan tangannya yang masih didekap oleh Sultan.

Jantung Rian berdebar semakin kencang tanpa bisa dia kendalikan. Rasanya aneh. Seperti ada sensasi geli yang menjalar di punggungnya, lalu disusul dengan rasa menggelitik di perut yang membuat Rian semakin salah tingkah.

Rian tahu apa artinya ini. Dia mengerti bahwa ini adalah indikasi bahwa dia sedang jatuh hati, tapi dia tidak pernah menyangka kalau efeknya akan segila ini.

"Homo ya?"

"Hah?" Rian yang sedang hanyut dalam pikirannya, seketika langsung kosong ketika mendengar Sultan mengatakan hal itu. Jantungnya yang tadi berdetak cepat seakan berhenti untuk beberapa menit, kaget dengan apa yang dia dengar.

Dengan refleks cepat, Rian langsung menolehkan kepala menatap Sultan dengan mata yang membola tanpa sadar. "Apaan?" tanyanya memastikan ulang.

"Itu mereka kayanya homo," kata Sultan memperjelas perkataannya.

Membuat Rian sedikitnya menarik napas lega dan kembali pada ekspresi normalnya. "Sotoy banget lu. Jangan sembarangan nuduh-nuduh orang begitu!"

"Lah, serius jir. Itu kelihatan banget mereka tuh pacaran."

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang