027

1K 90 2
                                        

Di tempat lain, Rian juga sama gelisahnya.

Sebab, sudah terhitung tujuh hari sejak malam di minimarket itu. Sejak Rian yang entah memiliki pemikiran dari mana, meluncurkan kalimat yang selama ini hanya berani dia ucapkan di dalam kepala.

"Gue suka sama lo, Tan."

Empat kata. Hanya empat kata yang langsung terasa mengubah semuanya.

Sejak malam itu, Sultan tampak berbeda dari biasanya. Dia tidak pernah lagi bereaksi ketika Rian jahili. Tidak lagi berteriak padanya dengan suara berisik yang entah kenapa dulu terasa hangat. Sultan juga tidak lagi memakinya balik saat Rian dengan sengaja memulai perdebatan di setiap kesempatan. Bahkan tatapannya kini terasa asing dan menghindar, seperti ingin membangun tembok di antara mereka.

Menyebabkan Rian merasa sepi karena semuanya yang mendadak hilang.

Rian mengepalkan tangannya erat, membiarkan pikirannya melayang jauh dan mengabaikan keributan markas mereka yang penuh diisi oleh suara anggota lain.

"Rian..." suara Gilang mengusik lamunannya. Membuat Rian menoleh.

Mereka duduk bersebelahan di sofa usang yang ada di dalam markas ini

"Lu kenapa sih? Gua liatin udah seminggu lu prengat-prengut aja" Gilang bertanya.

Rian diam untuk beberapa saat, menimbang-nimbang apakah dia harus mengatakannya atau tidak. Hingga mendadak dia mengucap sebuah pertanyaan, “Dia kayanya marah ya, Bang?”

"Dia? Dia siapa?" tanya Gilang yang mengerutkan alisnya kebingungan.

"Sultan"

Raut wajah Gilang semakin bertambah bingung ketika mendengar nama itu. "Lah, kenapa lagi lu sama Sultan?"

"Kemaren gua gak sengaja bilang suka ke dia" jawab Rian dengan lesu.

Gilang di sebelahnya sedikit menunjukkan ekspresi terkejut, bahkan ketika dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Namun, dia masih bersikap santai, memainkan batang rokok yang belum dia nyalakan sambil melirik Rian dari sudut mata. “Ngapain lu nanya gitu ke gua? Kenapa gak lu tanya langsung aja ke orangnya?”

Mendengar jawaban itu, Rian mendengus. “Kalo dia masih mau ngomong sama gua, gue gak bakal uring-uringan kaya gini, anjing.”

"Yaelah Yan, jadi ini lu ceritanya lagi galau nih?" ledek Gilang dengan tawa ringan. "Emangnya gimana dah kok lu bisa tiba-tiba bilang suka?"

“Waktu itu kita lagi beli es krim di minimarker. Dia tanya kenapa gua baik banget ke dia. Terus ya gua... aarghh—pokoknya gitu dah. Gua juga bingung, bangke!” Rian mengusap wajahnya dengan geraman frustasi yang jelas. "Goblok banget anjir gua, harusnya gua gausah ngomong begitu segala anjing!" sesalnya.

Raut wajah Gilang berubah maklum. Tampak memahami apa yang Rian sedang alami. “Jadi... lu serius suka ke Sultan?” tanyanya.

Rian tidak langsung menjawab. Dia menunduk dan memainkam gelang pemberian Sultan yang dia pakai di pergelangan tangannya. "Iya gua serius suka sama dia. Serius banget, bang"

"Dari kapan?" tanya Gilang lagi, yang sudah menyimpan kecurigaan sejak lama.

“Udah lama. Dari gua baru pertama kali masuk SMA, tapi begonya gua baru sadar sekarang"

Akurat seperti yang Gilang prediksikan. Dia sudah curiga pada temannya ini karena selalu saja menggangu Sultan, seakan tidak mau melewatkan satu hari pun tanpa membuat keributan dengan salah satu anggota geng Sinister itu. Makanya sekarang Gilang tidak terlalu terkejut ketika Rian mengatakan bahwa dia menyukai Sultan.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang