31

1K 111 6
                                        

Setelah acara perpisahan selesai di kantor, Gito mengajak Chika untuk berjalan-jalan menikmati siang di kota yang menjadi tempat tinggal mereka selama tinggak disini.
Matahari masih hangat, dengan langit biru cerah yang membuat suasana terasa menyenangkan.

"Kita nggak langsung pulang?" tanya Chika sambil menggandeng lengan Gito, wajahnya menunjukkan rasa ingin tahu.

Gito menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Nggak. Aku pengen ajak kamu keliling dulu. Ada beberapa tempat di sini yang aku yakin kamu bakal suka."

Mereka mulai berjalan menyusuri pusat kota, melewati jalan-jalan kecil yang dihiasi toko-toko khas lokal. Gito membawa Chika ke sebuah kafe kecil yang terkenal dengan kue dan kopinya.
Mereka duduk di sudut ruangan, menikmati suasana tenang sambil menyantap hidangan ringan.

Chika tersenyum sambil menyuap potongan kue ke mulutnya.
"Aku nggak nyangka kamu tau tempat kaya gini."

Gito menatapnya dengan tenang.
"Aku memang sibuk. Tapi aku juga tahu kapan harus berhenti sejenak dan menikmati waktu sama orang yang aku sayang."

Wajah Chika memerah mendengar kalimat itu.
"Terima kasih, sayang. Kamu nggak pernah gagal bikin aku jatuh cinta lagi dan lagi."

Setelah selesai di kafe, Gito dan Chika melanjutkan hari mereka dengan berjalan-jalan di sepanjang jalan kecil yang dipenuhi suasana khas kota itu. Trotoar bersih, deretan toko dengan papan nama bergaya klasik, dan beberapa musisi jalanan yang memainkan melodi lembut menambah kehangatan siang itu. Gito menggenggam tangan Chika erat, tak pernah melepaskan sepanjang jalan.













"Jadi, ini yang kamu lakuin setiap ada waktu luang?" Chika bertanya sambil menatap sekitar, sesekali memperhatikan bagaimana Gito begitu santai menikmati suasana.

"Nggak selalu," jawab Gito. "Tapi aku selalu ingin melakukan ini bersamamu. Sebelumnya aku terlalu sibuk untuk meluangkan waktu."

Chika tersenyum kecil, merasa tersentuh oleh kejujuran Gito.
"Kamu tau? Aku nggak pernah bayangin kamu akan seromantis ini."

Gito hanya tertawa kecil.
"Mungkin kamu belum kenal aku sepenuhnya."

Mereka berhenti sejenak di sebuah taman kecil yang dihiasi bunga warna-warni.
Bangku-bangku kayu berjajar rapi di bawah pohon rindang.

Gito mempersilakan Chika duduk di salah satu bangku, sementara ia membeli dua gelas minuman dingin dari kios di dekat taman.

Saat kembali, Gito menyerahkan segelas jus jeruk pada Chika.
"Ini buat kamu. Biar nggak kepanasan."

Chika mengambilnya sambil tersenyum.
"Kamu selalu tau caranya buat aku nyaman, Git"

Gito duduk di samping Chika, menatap bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Aku nggak tau apakah aku bisa sering-sering melakukan ini saat kita balik ke Indonesia nanti. Tapi aku ingin setiap momen bersamamu terasa istimewa, di mana pun kita berada."

Chika meletakkan gelasnya di samping, lalu memiringkan tubuhnya sedikit untuk menatap Gito lebih jelas.
"Git sejak dulu, aku selalu merasa kamu adalah seseorang yang sulit ditebak. Tapi semakin aku kenal kamu, semakin aku sadar, kamu adalah tempat ternyaman yang pernah aku temukan."

Gito menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu dalam tatapan penuh makna.
"Dan aku ingin jadi tempat itu untuk selamanya, Chika."














Hari semakin sore, tapi sinar matahari masih cukup hangat. Mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah museum kecil yang menyimpan cerita lokal kota itu.

Gito tahu betul Chika menyukai seni dan sejarah, sehingga ia merasa tempat itu akan cocok untuk menutup momen sore mereka.

(Bukan) AkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang