42

1K 119 19
                                        

Gedung pernikahan itu dipenuhi dekorasi bunga putih dan lampu-lampu temaram yang memberikan suasana hangat dan romantis.

Tamu-tamu sudah memenuhi kursi yang disediakan, sebagian besar sibuk mengobrol atau mengambil foto.

Namun di antara kebahagiaan itu, ada satu sosok yang terlihat lebih banyak diam daripada biasanya.

Gracia duduk di ruang tunggu pengantin, mengenakan gaun putih elegan yang menjuntai indah.

Makeup flawless di wajahnya tidak bisa menyembunyikan sorot mata yang sedikit redup.

Sean yang baru saja masuk ke ruangan, langsung menyadari ada sesuatu yang mengganggu istrinya.

Ia berjalan mendekat, berjongkok di hadapan Gracia sambil menggenggam tangannya.

"Sayang, kamu kenapa? Hari ini harusnya kamu bahagia."

Gracia menunduk, menghela napas pelan.
"Aku bahagia, Sean… tapi aku juga sedih."

Sean mengerutkan kening.
"Kenapa?"

Gracia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Gito nggak bisa datang… Aku ngerti dia sibuk, tapi tetep aja, dia adik bungsuku, Sean. Aku pengen dia ada di sini."

Sean mengusap punggung tangan istrinya, mencoba menenangkan. Ia tahu betapa pentingnya Gito bagi Gracia.

"Mungkin dia nggak ada di sini secara fisik, tapi aku yakin dia tetap ikut bahagia buat kamu. Lagipula, ini pernikahan kita, Sayang. Kita harus menikmati momen ini."

Gracia mengangguk kecil, meskipun di dalam hatinya, ia masih merasa ada yang kurang.











Di luar, para tamu undangan sudah berkumpul. Banyak wajah familiar hadir di pernikahan itu.
Anin, Sisca, Feni, Jinan serta beberapa teman lama mereka.

Di antara mereka juga ada adik-adik kelas mereka seperti Eli, Indah, Jessi, Marsha, Chika, dan Kathrina.

Kathrina, yang datang bersama kekasihnya, Jesson, terlihat sibuk mengobrol dengan Indah dan Marsha.

Di sisi lain, sahabat-sahabat Gito seperti Ollan dan Zean juga hadir, bersama beberapa teman lama mereka seperti Oniel dan Aldo.

Meskipun suasana terlihat ramai dan bahagia, ada satu hal yang terasa ganjil bagi beberapa orang, ketidakhadiran Gito.

Chika, yang juga datang memilih untuk duduk di salah satu sudut ruangan.

Ia tak banyak bicara, hanya diam memperhatikan suasana. Ada perasaan aneh yang menggelayut di dadanya saat menyadari bahwa Gito bahkan tidak datang ke pernikahan cicinya sendiri.

Namun tak ada yang bisa dia lakukan.
Hari ini adalah hari bahagia Gracia. Dan meskipun ada yang kurang, semuanya tetap berusaha menikmati momen sakral ini.

Di tengah riuhnya suasana pernikahan, Melody memperhatikan Gracia yang sesekali tampak melamun.

Sebagai seorang ibu, ia mengenal ekspresi itu, ada sesuatu yang mengganjal di hati putrinya.

Saat ada kesempatan, Melody mendekati Gracia yang sedang duduk di kursi pengantin setelah sesi foto keluarga.

Ia duduk di sampingnya, menggenggam tangan anak keduanya dengan lembut.

"Kamu kenapa, Nak? Dari tadi Ibu lihat kamu sering melamun. Harusnya hari ini kamu bahagia."

Gracia menoleh, tersenyum kecil, tetapi matanya masih menyiratkan kesedihan.
"Aku bahagia, Bu. Cuma… Gito nggak ada di sini. Harusnya dia ada, ikut nemenin aku di hari spesial ini."

(Bukan) AkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang