39

811 115 22
                                        

Senja mulai menggantung di langit, mewarnai kota dengan semburat jingga yang indah.

Namun tidak ada keindahan dalam hati Gito saat ini. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, setiap detik yang berlalu seolah menggores hatinya.

Selama satu minggu terakhir, ia sudah mengumpulkan semua bukti. Foto, percakapan, bahkan rekaman singkat pertemuan Chika dengan pria bernama Raka.

Tidak perlu orang lain memberitahunya, matanya sendiri sudah melihat semuanya dengan jelas.

Dan hari ini, ia memutuskan untuk membuktikan sendiri pengkhianatan itu.

Di dalam mobilnya, Gito menatap lurus ke depan. Tangan kirinya menggenggam kemudi, sementara tangan kanannya bertumpu di lutut.

Matanya tajam mengawasi mobil di depannya, mobil yang dikemudikan Raka, dengan Chika duduk di kursi penumpang.

Di belakangnya, dalam mobil yang berbeda, Ollan dan Zean juga mengikuti dari kejauhan.

Suara Zean terdengar melalui panggilan telepon yang tersambung di mobil Gito.

"Git, lo yakin mau kayak gini?"

Gito tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, menatap pantulan dirinya di kaca spion.
"Gue cuma mau liat sendiri" jawabnya akhirnya.
"Gue mau bukti yang nggak bisa disangkal."

Ollan yang ada di mobil bersama Zean ikut menyahut
"Bukti apa lagi yang lo butuhin? Lo udah dapet semuanya, kan?"

"Gue mau liat dengan mata kepala gue sendiri" ucap Gito, tenang tapi dingin.

Zean menghela napas. Ia melirik Ollan sejenak, lalu kembali menatap jalan.

"Kalau ini bikin lo lebih tenang, yaudah gue sama Ollan bakal tetep ada di belakang lo"
Gito tidak menjawab. Ia hanya mempererat genggamannya di setir.



Mobil Raka akhirnya berhenti di sebuah kafe kecil di sudut kota. Gito menepikan mobilnya beberapa meter dari tempat itu.
Di belakangnya, Ollan dan Zean juga ikut berhenti.

Dari dalam mobil, Gito melihat Chika turun dengan santai, berjalan berdampingan dengan Raka.

Mereka mengobrol, tertawa kecil. Hingga pada satu titik, Chika menggenggam pergelangan tangan Raka dengan manja.

Gito mengalihkan pandangannya ke setir. Ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa seperti diremas kuat-kuat, tetapi ia menahannya.

Lalu, ia menarik napas dalam dan keluar dari mobil.

Ollan dan Zean saling pandang sebelum akhirnya ikut turun, berdiri tak jauh dari mobil mereka.

Dari balik jendela kafe, Chika dan Raka masih belum menyadari kehadiran Gito yang kini berjalan mendekati mereka.

Dan saat suara dehaman pelan terdengar dari belakang, Chika langsung menegang.

Ia menoleh pelan dan wajahnya langsung pucat.

"G-Gito?" suaranya nyaris tak terdengar.

Raka yang duduk di hadapannya juga terlihat sedikit terkejut, tetapi ia segera mencoba bersikap tenang.

Sementara itu, Gito hanya menatap Chika dengan tatapan yang sulit diartikan.

Senyum tipis menghiasi wajahnya, senyum yang sudah lama tak Chika lihat.

"Hai, Yessica" sapanya ringan.

Chika menelan ludah, jantungnya berdegup kencang.

Gito mengalihkan pandangannya ke Raka.
"Lo juga di sini, ya?" tanyanya, seolah hal itu adalah kejutan kecil yang menyenangkan.

(Bukan) AkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang