41

870 112 28
                                        

Di ruang makan keluarga Adiwijaya, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.

Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang sesekali menyentuh piring.
Kathrina makan dalam diam, tidak seperti biasanya yang selalu banyak bicara.

Putra, kepala keluarga mereka, menyadari ada sesuatu yang berbeda. Pandangannya menyapu meja makan, mencari seseorang yang seharusnya ada di sana.

"Chika mana?" tanyanya akhirnya, suaranya tenang tetapi penuh otoritas.

Aya yang duduk di sebelahnya, meletakkan sendoknya perlahan dan menatap suaminya.
"Nanti aku jelasin setelah makan" jawabnya dengan nada lembut tetapi tegas.

Putra menatap istrinya beberapa detik sebelum mengangguk kecil.

Jika Aya berkata akan menjelaskan nanti, maka ia tahu pasti ada sesuatu yang serius terjadi.

Kathrina yang sedari tadi menunduk hanya menggigit bibirnya.

Ia tahu bahwa setelah makan malam ini, suasana di rumah mereka mungkin akan lebih tegang dari sebelumnya.












Setelah makan malam selesai, Putra duduk di ruang tamu, menunggu Aya yang baru saja membereskan meja makan.

Kathrina ikut duduk di sofa, sesekali memainkan ujung bajunya, sementara Putra tampak menunggu penjelasan istrinya dengan sabar.

Aya akhirnya duduk di samping suaminya dan menghela napas sebelum mulai berbicara.

"Chika udah nyakitin Gito" katanya pelan, namun cukup jelas untuk membuat Putra langsung menegang.

"Maksudnya?" tanyanya, alisnya berkerut.

Aya menatap suaminya dengan hati-hati, mencoba memilih kata yang tepat.
"Dia mengkhianati Gito."

Putra terdiam beberapa saat, seperti sedang mencerna kata-kata istrinya. Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup kuat.

"Astaga, Chika..." gumamnya, suaranya terdengar berat.

Aya menggenggam tangan suaminya, merasakan ketegangan yang menyelimuti tubuhnya.

"Sejak pulang, dia tidak keluar dari kamar. Aku tau dia menyesal. Tapi kita juga tau, rasa sesal tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi."

Putra menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya.

Ia memang kecewa, sangat kecewa. Namun bagaimanapun juga, Chika tetap anaknya. Ia tidak bisa membencinya.

Setelah beberapa saat berpikir, Putra merogoh ponselnya dan mulai mengetik nomor seseorang.

"Aku akan menghubungi Helisma" katanya, suaranya lebih tenang sekarang.
"Mungkin dia bisa menyemangati Chika."

Aya mengangguk, mendukung keputusan suaminya.








Putra memutuskan untuk menemui Chika terlebih dahulu.
Ia berjalan menuju kamar putrinya dan mengetuk pintu dengan lembut. "Chika, ini Papi. Boleh Papi masuk?"

Tak lama kemudian, suara klik terdengar dari balik pintu. Chika membuka pintu sedikit, cukup untuk menunjukkan wajahnya yang sembab dan mata yang bengkak akibat menangis.

Putra masuk dan duduk di tepi tempat tidurnya, menatap putrinya dengan penuh kasih.
"Gimana keadaan kamu, sayang?" tanyanya lembut.

Chika menggigit bibirnya, air mata kembali menggenang di matanya.
"Aku... Maaf, Pi..." suaranya bergetar, lalu tangisnya pecah lagi.
"Aku nyesel..."

Putra menghela napas dan menarik putrinya ke dalam pelukannya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya membiarkan Chika menangis di dadanya.

Kadang-kadang, pelukan lebih berarti daripada ribuan kata-kata.

(Bukan) AkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang