Di dalam mobil, suasana terasa berat. Ollan yang duduk di kursi kemudi melirik Zean sekilas, sementara Zean menatap kosong ke depan dengan rahang mengatup kuat.
Setelah beberapa saat diam, Zean akhirnya membuka suara, suaranya terdengar serak karena menahan emosi.
"Kita harus gimana?" tanyanya, masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi.
Ollan menarik napas panjang sebelum menjawab
"Kita cari Gito."
Zean menoleh cepat, matanya menyiratkan kegelisahan.
"Lo tau dia di mana?"
Ollan menggeleng pelan.
"Nggak. Tapi gue yakin, di mana pun dia sekarang, dia lagi butuh kita."
Zean mengepalkan tangannya, frustasi.
"Gue ngerasa bego banget, Lan. Harusnya gue kasih tau dia dari dulu, harusnya gue nggak nutupin semua ini."
Ollan menatap sahabatnya dengan serius.
"Sekarang bukan waktunya buat nyalahin diri sendiri, Zean. Kita nggak bisa ngerubah masa lalu, tapi kita bisa pastiin kalau Gito nggak ngelewatin ini sendirian."
Zean terdiam, lalu mengangguk pelan.
"Lo bener. Ayo cari dia."
Tanpa buang waktu, Ollan segera menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraan.
Mereka tidak tahu pasti ke mana harus mencari, tetapi satu hal yang pasti, mereka tidak akan meninggalkan Gito sendirian dalam keadaan seperti ini.
Sementara itu, Gito berdiri di tepi danau, membiarkan hujan mengguyur tubuhnya tanpa berniat mencari tempat berteduh.
Air hujan bercampur dengan butiran keringat di pelipisnya, dingin menusuk hingga ke tulang, tetapi entah kenapa ia tidak merasakannya.
Tatapannya kosong menatap riak-riak kecil di permukaan air yang bergetar setiap tetesan hujan jatuh.
Danau ini... tempat ini... dulu terasa begitu menenangkan baginya.
Tempat di mana ia bisa melarikan diri dari segalanya, dari dunia yang terasa begitu berat.
Namun sore ini, danau ini tidak memberinya ketenangan.
Hanya ada kehampaan yang semakin dalam, rasa sesak yang makin menyesakkan dada.
Pikirannya masih dipenuhi bayangan Chika, senyumannya, tatapan matanya, cara ia menggenggam pergelangan tangan Raka dengan begitu alami.
Seolah dirinya, Gito, tidak pernah ada di hidupnya.
Gito mengepalkan tangan, kuku-kukunya menggali ke dalam telapak tangan.
Jadi ini akhirnya?
Lima tahun, semua perasaan yang ia pendam, semua perjuangan yang ia lakukan semuanya sia-sia?
Sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya.
Tawa tanpa emosi, tawa yang lebih mirip ejekan untuk dirinya sendiri.
"Lucu banget, Git" gumamnya lirih.
"Lo kira lo siapa? Lo pikir lo spesial?"
Ia menggeleng pelan.
Bodoh.
Lalu di tengah kesunyian itu, ia mendongak ke langit kelabu. Hujan deras masih turun tanpa henti, mengguyur wajahnya seakan ikut meratapi kebodohannya.
Beberapa menit berlalu, Gito tetap berdiri di sana, membiarkan waktu berlalu tanpa peduli.
Hingga tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di sisinya, dan setetes air hujan yang sedari tadi menemaninya tak lagi menyentuh kulitnya.
Gito menatap payung hitam yang tiba-tiba menaunginya dari hujan.
Tetesan air yang sedari tadi jatuh deras di tubuhnya kini berhenti, meskipun dingin masih terasa menusuk kulit.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Bukan) Aku
Teen FictionDalam gelap ada harap, dalam rusak ada isak Dalam berbisik merindukan dekap Dan dalam letak ada hati yang telah retak.
