32

980 104 10
                                        

Esok Hari

Pagi itu, suasana rumah Gito mulai terasa sibuk. Para maid terlihat berlalu-lalang dengan cekatan, mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan Gito dan Chika ke pusat oleh-oleh.
Indira sudah berangkat lebih awal ke kantor untuk menggantikan Gito sementara.

Saat Chika selesai sarapan, Gito menghampirinya dengan senyum tipis.
"Chika, aku ada satu permintaan kecil" ujarnya.

Chika mendongak, menatap Gito dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. "Apa?"

Gito menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
"Aku ingin kamu membelikan sesuatu untuk Kathrina."

Wajah Chika seketika berubah sedikit terkejut.
"Buat Atin? Kenapa tiba-tiba?"

Gito menghela napas ringan, menatap Chika dengan serius.
"Aku tau dia nggak suka sama aku. Dan aku paham alasannya. Tapi aku pengen coba perbaiki hubungan ini, sekecil apa pun langkahnya. Lagipula, dia adik kamu. Aku nggak mau terus-terusan bikin jarak di antara kita."

Chika terdiam sejenak, mengamati ekspresi Gito. Ia tahu betapa besar usahanya untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. "Oke," jawab Chika akhirnya.
"Aku akan cari sesuatu yang dia suka. Tapi nggak janji bakal langsung bikin dia berubah pikiran, ya."

Gito tersenyum kecil, merasa lega. "Aku nggak berharap banyak. Yang penting aku mencoba."

Setelah itu, mereka bersiap-siap pergi. Salah satu maid menghampiri mereka di pintu dengan senyum ramah.
"Sir, Madam, your car is ready."

"Thank you, Elsa" jawab Gito singkat, lalu mengarahkan Chika menuju mobil yang sudah menunggu di depan rumah.













Di pusat oleh-oleh, suasana begitu ramai. Banyak toko kecil menjajakan barang-barang unik khas lokal, mulai dari makanan, kerajinan tangan, hingga pakaian tradisional. Gito dan Chika berjalan beriringan, tangan mereka saling bertaut.

"Kira-kira apa yang cocok buat Kathrina?" tanya Gito, memecah keheningan.

Chika berpikir sejenak, lalu menunjuk sebuah toko pernak-pernik yang terlihat menarik.
"Mungkin kita bisa coba ke sana. Dia suka barang-barang lucu yang bisa dipajang di kamarnya."

Mereka memasuki toko itu, dan Chika mulai memilih beberapa hiasan kecil berbentuk unik.
Ada sebuah boneka kayu yang menarik perhatiannya.
"Gimana kalau ini?" tanya Chika sambil memegang boneka itu.

Gito mengangguk setuju.
"Bagus. Tambahin juga sesuatu yang personal, kayak kartu ucapan. Aku pengen tulis sesuatu buat dia."

Chika tersenyum tipis.
"Usaha kamu nggak main-main, ya."

Gito menatap Chika dengan serius. "Aku nggak mau gagal lagi. Kamu dan keluarga kamu penting buat aku."

Pernyataan itu membuat Chika merasa hangat. Mereka melanjutkan belanja, memilih berbagai oleh-oleh untuk Melody, Gracie, Shani, Gracia, dan anggota keluarga lainnya.








Di tengah perjalanan pulang, Chika memandang Gito yang sedang menyetir.
"Aku seneng banget kamu mau mencoba, Gito. Kathrina memang keras kepala, tapi dia sebenarnya punya hati yang lembut. Mungkin, suatu hari nanti, dia akan melihat usahamu."

Gito tersenyum kecil.
"Aku hanya butuh waktu. Dan dukunganmu, tentu saja."

Chika mengangguk, merasa yakin bahwa meski prosesnya tidak mudah, hubungan Gito dengan adiknya akan perlahan membaik.

Setelah selesai membeli oleh-oleh, mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang.

Gito tetap fokus mengemudi, tetapi pikirannya tak lepas dari Kathrina.
Ia tahu betapa besar beban yang dia rasakan untuk bisa diterima oleh adik Chika itu.

(Bukan) AkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang