35

1K 99 3
                                        

Di ruang tamu rumah Chika, suara dering ponsel memecah keheningan. Chika yang sedang duduk di sofa langsung meraihnya.

Nama Gito tertera di layar. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat panggilan itu.

"Halo?" suara Chika terdengar lembut

"Chik, aku udah sampai di rumah" kata Gito dari seberang telepon, nadanya terdengar lega.

"Oh, syukurlah. Perjalanan kamu lancar, kan?"

"Lancar kok. Udah istirahat? Istirahat lagi, gih. Kamu pasti capek" Gito bertanya, nada perhatiannya terasa hangat.

Chika tersenyum kecil, meskipun Gito tidak bisa melihatnya.
"Belum, masih ngobrol sama Kathrina tadi."

Gito mendesah pelan.
"Chika, istirahat ya. Perjalanan kita panjang kemarin, kamu pasti capek. Jangan terlalu memaksakan diri."

"Baik, Mr Gito" jawab Chika dengan nada menggoda, tapi ia tetap menurutinya.
"Kamu juga jangan lupa istirahat."

"Iya, aku akan istirahat nanti. Tapi sekarang aku mau habisin waktu sama keluarga dulu" balas Gito dengan nada yang penuh kehangatan.

"Baiklah. Kalau gitu, aku tutup ya, biar kamu fokus sama keluarga."

"Iya. Jangan lupa istirahat ya. Aku sayang kamu" ucap Gito sebelum menutup telepon.

Chika tersenyum lebar mendengar kata-kata itu.
"Aku juga sayang kamu, Gito"

Setelah panggilan berakhir, Chika langsung menuju kamarnya dan mencoba berbaring seperti yang Gito sarankan.








Sementara itu di rumah Gito, suasana terasa hangat dan penuh keakraban. Gito menghabiskan waktu bersama Melody, Shani, dan Gracia di ruang keluarga. Meski tubuhnya terasa lelah, ia tetap berusaha menunjukkan energi positif.

"Gito, kamu kelihatan capek. Istirahat dulu, nak" ujar Melody sambil menyodorkan segelas jus jeruk untuknya.

Gito mengambil gelas itu dan tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa, Bu. Aku seneng bisa kumpul sama kalian. Rasanya udah lama banget nggak kayak gini."

Shani yang duduk di sofa sambil memegang ponsel ikut menimpali.

"Memang lama, Dek. Jadi, kalau kamu capek, mending tidur aja. Kita juga nggak akan kemana-mana kok."

Gito hanya menggeleng kecil. Ia menyesap jusnya pelan-pelan, lalu tiba-tiba terlintas sebuah ide di benaknya.

"Bu, Ci Shani, Ci Gre, aku mau ngomong sesuatu" ujarnya, membuat ketiga wanita itu langsung menatapnya dengan penuh perhatian.

"Apa, Git?" tanya Gracia.

Gito meletakkan gelasnya di meja dan duduk lebih tegak.

"Aku tahu kalian sering capek ngurus rumah ini. Jadi aku kepikiran, gimana kalau kita nyewa art buat bantu-bantu? Supaya Ibu sama Cici nggak perlu terlalu cape."

Melody langsung menggeleng pelan.

"Nggak perlu, Nak. Kita masih bisa ngurus rumah ini kok. Lagipula, menyewa art itu kan biayanya nggak sedikit."

"Bu" Gito memotong dengan nada lembut tapi tegas

"Aku cuma nggak mau lihat Ibu dan Cici cape lagi. Kalau ada art yang bantu, kalian bisa lebih banyak istirahat. Aku nggak keberatan soal biayanya. Aku yang tanggung semuanya."

Shani dan Gracia saling pandang, sementara Melody tampak bimbang. "Tapi, Git…"

Gito tersenyum dan mendekat ke arah ibunya, menggenggam tangan Melody dengan lembut.

(Bukan) AkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang