43

2K 141 48
                                        

Chika terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya bermandikan keringat.

Dadanya naik turun, jantungnya masih berdebar kencang akibat mimpi buruk yang barusan menghantuinya.

Pandangannya masih buram, tetapi ia segera menyadari di mana ia berada, di ranjang rumah sakit, dengan selang infus yang menancap di lengan kirinya serta selimut putih menutupi tubuhnya.

Di sampingnya, Gito yang sejak tadi fokus menatap laptopnya sontak tersentak ketika melihat kondisi Chika.

Tanpa pikir panjang, ia segera menutup laptop dan mendekat.

"Chika? Sayang, kamu kenapa?" tanyanya cemas, tangannya langsung terangkat menyentuh kening Chika yang masih sedikit panas.

Chika terdiam beberapa saat, mencoba mengatur napasnya. Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu menyakitkan.

Hatinya masih terasa sesak membayangkan Gito berdiri di atas panggung bersama wanita lain.

Melihat Chika hanya diam, Gito semakin khawatir.
"Kamu mimpi buruk, ya?"

Chika mengangguk pelan. Ia mengerjap, menatap tunangannya yang kini begitu dekat, sorot matanya penuh kekhawatiran.

"Aku-aku mimpi aneh, Git" suaranya sedikit bergetar.
"Mimpi kamu nikah sama orang lain."

Gito tertegun sejenak, lalu dengan cepat meraih tangan Chika, menggenggamnya erat.

"Sayang, itu cuma mimpi. Aku di sini, sama kamu. Aku nggak akan pergi ke mana-mana."

Chika menggigit bibirnya, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia tahu itu hanya mimpi, tapi perasaan takut kehilangan Gito masih terasa menusuk di dadanya.

"Aku nggak pernah khianatin kamu, Git. Aku cuma terlalu sibuk sampai sakit gini... Aku takut kamu marah atau kecewa..." ucapnya lirih.

Gito tersenyum kecil, lalu menangkup wajah Chika dengan kedua tangannya.

"Aku tau kamu nggak pernah khianatin aku. Dan aku nggak akan pernah marah cuma karena kamu sibuk. Justru yang harusnya jaga kamu biar nggak sakit kayak gini."

Ia menempelkan keningnya pada kening Chika, membiarkan kehangatan mereka bertemu.

"Sebulan lagi kita menikah, Chika. Aku nggak butuh siapa-siapa lagi selain kamu. Jadi tolong, jangan jatuh sakit lagi, ya?"

Air mata Chika akhirnya jatuh. Ia tersenyum, lalu mengangguk.
"Aku cinta kamu, Git."

Gito mengecup puncak kepalanya, lalu menarik tubuh Chika ke dalam pelukannya.

Ia bisa merasakan detak jantung Chika yang masih berdegup cepat, tapi kini perlahan kembali stabil dalam dekapannya.

"Udah, jangan dipikirin lagi. Sekarang istirahat, ya? Aku di sini, nggak akan ke mana-mana."








Chika mengangguk dalam pelukan Gito, akhirnya merasa tenang. Mimpi buruk itu mungkin terasa nyata, tapi kenyataan yang ia jalani jauh lebih indah.

Gito tetap memeluk Chika dalam kehangatan yang menenangkan, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

Ia merasa bersalah karena tak menyadari betapa Chika terlalu sibuk sampai jatuh sakit seperti ini.

Setelah beberapa saat, Gito melepaskan pelukannya perlahan. "Kamu haus? Mau minum?" tanyanya lembut.

Chika mengangguk kecil. Ia masih merasa lelah, tetapi hatinya jauh lebih tenang dibanding beberapa menit lalu.

Gito segera bangkit dari tempat duduknya, menuangkan segelas air dari botol di meja samping ranjang, lalu membantu Chika duduk sebelum menyerahkan gelas itu padanya.

(Bukan) AkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang