Satu minggu berlalu
Siang itu, mobil Gito melaju terburu-buru menuju kampus Chika.
Ia baru saja keluar dari toko perlengkapan sekolah setelah membeli beberapa barang tambahan untuk Gracie.
Meski ia sudah menyiapkan segalanya sejak jauh-jauh hari, tetap saja ada hal kecil yang terlewat.
Tas kecil untuk kotak bekal Gracie ternyata perlu diganti, dan Gito tidak mau menunda-nunda hal itu.
Namun karena terlalu fokus memastikan semuanya lengkap, ia kehilangan beberapa menit berharga. Sekarang, ia terlambat menjemput Chika.
Sesampainya di kampus, Gito memarkir mobilnya dengan cepat dan segera mencari Chika.
Ia menemukannya duduk di bangku taman dekat gerbang kampus, tangan bersilang di dada, wajahnya tampak sedikit masam.
Gito mendekat dengan senyum canggung.
"Maaf, aku telat. Tadi-"
"Tadi apa?" potong Chika, nada suaranya terdengar kesal.
Ia bangkit dari tempat duduknya dan menatap Gito dengan alis terangkat.
"Aku udah nunggu hampir setengah jam, tau!"
Gito menggaruk tengkuknya, berusaha menjelaskan.
"Aku tadi mampir beli perlengkapan sekolah buat Gracie. Ada beberapa barang yang aku lupa beli kemarin."
Chika menghela napas panjang, mencoba menahan kekesalannya.
"Ya ampun, Gito. Nggak bisa tadi malam atau nanti aja? Aku kan jadi lama nunggu di sini."
Melihat wajah kesal Chika, Gito mendekat dan mengulurkan tangan untuk meraih jemarinya.
"Aku benar-benar minta maaf, Chik. Aku nggak sengaja terlambat. Aku cuma ingin semuanya siap untuk hari pertama sekolah Gracie. Kamu tau kan, aku nggak mau ada yang kurang."
Chika menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan.
"Iya, aku ngerti. Tapi lain kali, jangan bikin aku nunggu lama gini, ya. Aku kan capek juga habis kelas."
Gito tersenyum kecil, lalu meremas lembut tangannya.
"Aku janji. Aku nggak bakal ngulangin ini lagi. Maafin aku, ya?"
Setelah beberapa saat, Chika akhirnya tersenyum tipis.
"Ya udah, aku maafin. Tapi jangan diulangi lagi, ya."
"Iya, aku janji" balas Gito sambil membuka pintu mobil untuk Chika. Ia memastikan Chika masuk dengan nyaman sebelum melangkah ke sisi pengemudi.
Dalam perjalanan pulang, Gito mencoba mencairkan suasana dengan bertanya
"Mau mampir dulu beli es krim? Biar mood kamu balik"
Chika meliriknya dari sudut matanya, lalu tersenyum kecil.
"Kalau aku minta dua rasa sekaligus gimana?"
"Boleh. Apa aja buat orang tercinta" jawab Gito dengan nada menggoda.
Chika tertawa kecil, kekesalannya benar-benar menguap. Meski terlambat, ia tahu Gito selalu berusaha memberikan yang terbaik, terutama untuk keluarganya. Itulah yang membuatnya tetap bertahan.
Setelah membeli es krim sesuai janji Gito, keduanya memutuskan untuk makan di sebuah taman kecil yang teduh di perjalanan pulang.
Chika terlihat lebih santai, menikmati rasa es krim yang dingin di bawah pepohonan rindang.
"Aku nggak nyangka kamu bakal ngelakuin ini cuma buat gantiin waktu aku nunggu tadi" ujar Chika sambil menyendok es krim rasa vanila dan stroberi di cup-nya.
"Apapun biar kamu nggak marah lagi" balas Gito, setengah bercanda, sambil menyandarkan punggungnya ke bangku taman.
"Aku tau tadi salah, jadi aku harus ganti,"
KAMU SEDANG MEMBACA
(Bukan) Aku
Novela JuvenilDalam gelap ada harap, dalam rusak ada isak Dalam berbisik merindukan dekap Dan dalam letak ada hati yang telah retak.
