26

882 64 15
                                        

Aleyna duduk di ruang tamu dengan gelas teh hangat yang hampir tak tersentuh di tangannya. Ruangan itu sepi, hanya ada suara jam dinding yang berdetak pelan, menciptakan ritme yang entah kenapa semakin membuat pikirannya penuh. Pandangannya terpaku pada meja di depannya, tempat tumpukan dokumen milik Jay berserakan. Jay selalu ceroboh meninggalkan barang-barangnya, tetapi kali ini Aleyna merasa beruntung karena itu.

Pikirannya kembali ke percakapan singkat mereka kemarin malam, saat ia mencoba bertanya tentang insiden di kantor. Jay, dengan ekspresi datarnya, hanya menyebutnya sebagai masalah biasa, salah paham, katanya. Tapi Aleyna tahu lebih baik. Ia telah hidup cukup lama bersama Jay untuk mengenali kapan pria itu berbohong.

Apa yang sedang kau sembunyikan, Jay ? pikirnya, matanya menyipit tajam.

Dia menegakkan tubuhnya, meletakkan gelas teh yang sudah dingin di meja. Jika Jay tidak mau berbicara, maka dia harus mencari tahu sendiri. Aleyna tidak pernah menjadi orang yang menyerah begitu saja, terlebih saat ia merasa sesuatu mengancam kestabilan kehidupannya.

Dia berjalan ke ruang kerja Jay dengan langkah mantap, meskipun ada rasa ragu yang berusaha ia abaikan. Pintu ruang kerja itu terbuka sedikit, seperti mengundangnya masuk. Dalam diam, Aleyna menyusuri ruangan itu, matanya dengan teliti memindai meja kerja yang berantakan. Buku catatan kecil yang sering Jay gunakan menarik perhatiannya.

Ia mengambilnya dengan hati-hati, membuka halaman demi halaman dengan kecepatan lambat, seperti takut melewatkan sesuatu. Di tengah halaman, ia menemukan catatan yang terasa mencurigakan, nama Anna tertulis dengan tinta hitam tebal. Aleyna mengernyit, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Nama itu terasa asing baginya.

"Anna..." bisiknya pelan, matanya menyusuri catatan di bawah nama itu, alamat dan jadwal yang tampak seperti pertemuan.

Sesuatu dalam dirinya mengatakan ini lebih besar dari yang terlihat. Ia menutup buku catatan itu, menggenggamnya erat di tangan. Matanya menatap lurus ke arah jendela ruang kerja, seolah mencoba menyusun kepingan teka-teki yang mulai memenuhi pikirannya.

Setelah beberapa saat, Aleyna memanggil salah satu pengawalnya. Pria itu datang dengan langkah cepat, menunduk hormat di hadapannya.

"Aku butuh informasi" ucap Aleyna dengan nada tenang tetapi tegas. "Cari tahu siapa yang menyerang Jay di kantornya kemarin"

Pengawal itu mengangguk tanpa bertanya. Namun, sebelum dia berbalik untuk pergi, Aleyna melanjutkan perintahnya.

"Dan hubungkan itu dengan nama ini" Ia menunjukkan catatan kecil dengan nama Anna yang masih tergenggam di tangannya.

Pria itu tampak terkejut sesaat, tetapi segera mengangguk patuh. "Baik, Nyonya. Aku akan segera menyelidikinya"

Aleyna memandangnya pergi sebelum kembali duduk di sofa di ruang tamu. Tangannya menyentuh permukaan meja dengan lembut, tetapi pikirannya penuh dengan berbagai asumsi dan pertanyaan.

Rahasia ini, apa pun bentuknya, harus terungkap. Aleyna tidak akan membiarkan sesuatu yang tidak ia ketahui mengancam kehidupannya atau hubungan rumah tangganya dengan Jay.

***

Ruangan kantor Jay terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada suara pelan detik jam di dinding dan deru AC yang monoton, tetapi itu tidak cukup untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Duduk di kursinya yang mewah, Jay memijat pelipisnya dengan gerakan lambat, mencoba menghalau rasa frustrasi yang menguasai dirinya.

Hari-hari terakhir ini, sesuatu terasa salah. Anna tidak muncul lagi di rumahnya untuk bekerja dan itu mulai mengganggu rutinitasnya. Namun, bukan karena ia merindukan kehadiran wanita itu, rasa gelisahnya lebih seperti bara amarah yang terus menyala.

Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang