34

700 58 7
                                        

Langit malam diselimuti kabut tipis, menyembunyikan sinar bulan yang lemah. Jalanan kota yang lengang menambah kesan dingin yang mencekam. Jay berdiri di samping mobil hitamnya, jaket kulitnya memancarkan aura dingin dan otoritas yang tak terbantahkan. Beberapa pria berdiri di dekatnya, berbicara dengan nada rendah namun penuh kewaspadaan, sesekali melirik Jay yang tenggelam dalam pikirannya.

"Masih belum ada kabar?" tanya Jay, suaranya rendah namun tajam, menusuk langsung ke arah pria yang tampak gugup.

Pria itu menggeleng perlahan. "Kami sudah memeriksa beberapa tempat bahkan kerumah yang ada dikampung halamannya, tapi sejauh ini mereka seperti menghilang tanpa jejak"

Jay mendengus pelan, nada kesal tergurat di wajahnya. "Kalian bahkan tidak bisa menemukan dua orang yang sedang melarikan diri? Apa aku harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan ini?"

Pria lainnya mencoba meredakan ketegangan. "Kami akan mencari lebih jauh, Tuan. Ini hanya soal waktu"

Jay melirik jam di pergelangan tangannya, wajahnya semakin mengeras. "Waktu? Aku tidak punya waktu untuk ini. Periksa setiap sudut kota. Kalau perlu, obrak-abrik tempat ini sampai kalian menemukannya!"

Setelah memberikan perintah itu, Jay memutuskan untuk ikut turun langsung. Dia masuk ke mobil, membawa seorang pria kepercayaannya.

Jay berdiri di depan terminal bus yang hampir kosong. Beberapa lampu yang masih menyala memberikan penerangan redup, menciptakan bayangan panjang dari sosoknya yang kokoh. Jaket kulit yang dikenakannya tampak menyatu dengan malam, memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun enggan mendekat.

Di belakangnya, seorang pria kepercayaannya berdiri dengan gugup, mencoba membaca ekspresi tuannya. "Apa kita sudah memeriksa bagian dalam terminal?" tanya Jay tanpa menoleh, suaranya rendah namun penuh tekanan.

"Sudah, Tuan" jawab pria itu dengan suara pelan. "Tapi tidak ada tanda-tanda mereka. Penjaga tiket juga mengatakan tidak ada wanita yang cocok dengan deskripsi yang Anda berikan"

Jay mendengus pelan, mengangkat dagunya sedikit, pandangannya mengitari area terminal yang lengang. Matanya yang tajam mengamati setiap sudut, setiap wajah yang lewat, seolah berharap menemukan sosok yang dia cari.

"Tidak mungkin mereka tidak meninggalkan jejak" gumam Jay, lebih kepada dirinya sendiri. Langkah kakinya mantap memasuki terminal, melewati bangku-bangku kosong dan papan jadwal yang mulai usang.

Di dekat loket tiket, seorang pria tua sedang merapikan dokumen. Jay mendekat, menghentikan langkahnya tepat di depan loket. "Aku mencari dua orang" katanya langsung, tanpa basa-basi. "Gadis dengan rambut panjang dan juga laki-laki dengan tinggi sekitar 180 sentimeter. Mereka mungkin membeli tiket hari ini"

Pria tua itu mengerutkan kening, menatap Jay sejenak sebelum menggeleng perlahan. "Tidak ada yang seperti itu, Tuan. Terminal ini sepi hari ini."

Jay terdiam, menggenggam tangannya di belakang punggung. Rahangnya mengeras, dan ia mengambil napas dalam-dalam untuk menahan frustrasi yang semakin memuncak.

"Kalau begitu, periksa catatan tiket kalian" perintahnya dingin.

"Maaf Tuan, tapi—"

Jay menyelipkan beberapa lembar uang besar ke meja, membuat pria tua itu tertegun. "Aku tidak suka menunggu" ucap Jay dengan nada rendah yang mengancam.

Pria tua itu segera mengambil catatan dan memeriksanya. Setelah beberapa saat, dia menggeleng lagi. "Tidak ada, Tuan. Nama atau deskripsi seperti itu tidak tercatat di sini"

Jay menarik napas panjang, mengusap pelipisnya. "Mereka pasti punya cara lain. Mungkin mereka tidak menggunakan transportasi umum" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Dia melangkah menjauh dari loket, menuju pria kepercayaannya yang masih menunggu di dekat pintu.

Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang