19

1.1K 83 10
                                        

Hujan deras mengguyur tanpa henti sejak pagi, menciptakan irama monoton di atas genting rumah. Langit sore tampak kelabu, seolah-olah matahari lupa bagaimana caranya bersinar. Udara dingin meresap hingga ke tulang, memaksa siapa pun untuk tetap berada di dalam rumah.

Anna duduk bersandar diruang tengah dengan selimut tebal melingkari tubuhnya. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seolah membutuhkan tenaga yang tidak ia miliki. Kepalanya berdenyut dan napasnya terasa pendek. Sejak pagi tadi, ia sudah merasa tidak enak badan, pusing, mual dan kelelahan yang tidak biasa.

Ia memandang kosong ke jendela, melihat tetesan air hujan yang menetes perlahan. Rumah terasa sunyi, hanya diisi suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar samar. Teh hangat yang ia buat beberapa jam lalu sudah dingin di meja, tidak tersentuh.

Anna menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Namun rasa sesak itu tetap ada, menggantung di dadanya seperti beban yang tidak terlihat. Tubuhnya mungkin lelah, tetapi pikirannya jauh lebih lelah. Setiap hari yang ia jalani terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.

Di luar, angin bertiup kencang, menggoyangkan ranting-ranting pohon. Cahaya redup dari lampu meja menjadi satu-satunya sumber kehangatan di dalam ruangan. Anna memejamkan mata sejenak, berharap rasa sakit di kepalanya mereda. Tapi ketenangan itu tidak datang.

Ia mencoba bangkit dan berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil air putih. Namun langkahnya goyah dan tubuhnya terasa limbung. Tangannya berpegangan pada dinding, mencoba menjaga keseimbangan. Sesaat ia merasa dunia berputar, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap berdiri.

Setelah meneguk sedikit air, Anna kembali ke ruang tamu dan membiarkan dirinya kembali terduduk. Ia tahu ia seharusnya beristirahat lebih baik, tetapi pikirannya terus dipenuhi kekhawatiran. Tentang Jay. Tentang Niki. Tentang dirinya sendiri.

Setelah beberapa saat duduk, Anna mulai merasakan kelopak matanya berat. Tubuhnya merespons rasa lelah yang tidak bisa ia abaikan lagi. Hujan di luar masih turun dengan deras, menciptakan irama yang monoton, hampir menenangkan. Ia menarik selimut lebih erat, mencoba menemukan sedikit kehangatan di tengah dinginnya sore itu.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, suara ketukan keras menggelegar di pintu depan, membuyarkan keheningan. Bukan sekadar ketukan biasa, melainkan gedoran penuh amarah yang menggema di seluruh ruangan. Anna tersentak, jantungnya berdetak kencang.

"Anna!" suara berat dan kasar terdengar dari balik pintu. Suara yang sangat familiar, tapi dengan nada yang membuat bulu kuduknya meremang. Jay.

Anna membeku di tempatnya. Pikirannya kalut, mencoba memahami situasi. Mengapa Jay datang ke sini ? Kenapa suaranya terdengar begitu marah ?

Gedoran itu terus berlanjut, semakin keras, seolah-olah pintu bisa jebol kapan saja. "Anna, buka pintunya sekarang!" suaranya terdengar lebih tegas dan penuh ancaman.

Dengan tubuh gemetar, Anna bangkit. Setiap langkah menuju pintu terasa seperti perjalanan panjang yang menyesakkan. Tangannya terulur, tapi berhenti beberapa sentimeter dari gagang pintu. Ia ragu. Takut. Tapi ia tahu bahwa menunda hanya akan memperburuk keadaan.

Ketika akhirnya ia membuka pintu, angin dingin langsung menyergap, membawa serta hujan yang membasahi lantai. Jay berdiri di ambang pintu, tubuhnya basah kuyup. Kemejanya menempel pada tubuhnya dan rambutnya yang gelap meneteskan air. Wajahnya terlihat lebih kelam dari biasanya, dengan rahang yang mengatup kencang. Matanya menatap Anna dengan intensitas yang menakutkan.

"Kenapa kau tidak mengangkat teleponku ?" Jay bertanya, suaranya rendah tapi tajam. Nadanya mengandung kemarahan yang ditahan, seperti bara yang siap menyala.

Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang