Hari itu terasa begitu tenang, seakan waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Anna duduk di ruang tengah, menikmati ketenangan setelah sekian lama penuh gejolak. Rumah yang biasanya terasa begitu sunyi kini memberi sedikit kelegaan di hatinya. Namun, ketenangan itu segera terganggu dengan suara ponsel yang bergetar di meja. Anna menoleh sejenak, lalu meraih ponselnya.
Tanpa ragu, dia mengangkat telepon tersebut, namun begitu suara yang terdengar di seberang sana menyentuh telinganya, sesuatu dalam dirinya terasa terhenti. Diam sejenak, Anna hanya terdiam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari orang di seberang sana. Suara itu membuat tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdebar begitu kencang, seolah-olah dunia di sekitarnya tiba-tiba berhenti berputar. Ponsel yang tadinya berada di tangannya jatuh begitu saja ke lantai, tak ada yang menyentuhnya.
Anna terduduk, tubuhnya terasa rapuh dan kosong. Air mata yang sejak tadi tertahan kini mengalir begitu deras, membasahi pipinya tanpa bisa dihentikan. Hatinya tertekan, seolah ada yang hancur di dalam dirinya, namun dia tak tahu harus bagaimana lagi. Perasaan yang begitu berat ini datang begitu tiba-tiba dan dalam kesendirian itu, Anna hanya bisa menangis tanpa kata.
Sementara itu, di ruangan lain, Alayna duduk di depan meja kerjanya, tatapannya kosong, meski matanya tetap menatap layar televisi. Berita yang ditayangkan begitu jelas, dengan gambar yang membuat hatinya terasa begitu hancur. Suara penyiar yang memberitakan duka cita yang melibatkan Jay, menghantam hatinya dengan keras. Setiap kata yang disampaikan terasa begitu menusuk, membuat Alayna merasa tak sanggup untuk mendengarnya lebih lama.
Tanpa bisa menahan perasaan, Alayna mematikan televisi itu dengan tangan yang gemetar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, menghirup napas dalam-dalam. Mata Alayna terpejam, namun tak ada yang bisa menenangkan hatinya saat itu. Air mata mulai jatuh, perlahan menuruni pipinya, namun tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Seolah, seluruh emosi yang ada di dalam dirinya yang terkunci begitu lama, akhirnya pecah begitu saja, menjadikan kesedihan itu begitu nyata.
Di antara kesedihan yang menyelimuti mereka, baik Anna maupun Alayna, keduanya tak bisa menghindar dari perasaan yang dalam, dari kehilangan yang seakan tak bisa dihindari. Dunia mereka seakan runtuh, membawa serta segala kenangan dan harapan yang pernah ada. Anna dan Alayna, masing-masing terperangkap dalam kesendirian mereka, memproses perasaan yang begitu sulit untuk diterima.
Hari itu, langit mendung menggelayuti tempat peristirahatan terakhir Jay. Anna, Niki dan Alayna berdiri di sana, masing-masing terdiam, membiarkan angin yang berhembus perlahan menyapu wajah mereka. Tempat itu sepi, hanya ada gemerisik daun dan suara langkah mereka yang menggema di antara batu nisan. Hati mereka terasa kosong, dibalut oleh perasaan kehilangan yang tak terucapkan.
Di tengah heningnya suasana, seorang petugas polisi mendekat, langkahnya tegas namun penuh kehati-hatian. Ketika matanya bertemu dengan Anna, dia mengangguk pelan, lalu memanggil namanya dengan suara yang penuh rasa simpati.
"Maaf, apakah kau Anna?" tanya petugas itu.
Anna menoleh, merasakan ada yang tak beres. "Ya, aku Anna" jawabnya dengan suara lirih, seolah merasakan sebuah firasat yang tak bisa dijelaskan. Niki dan Alayna memandang Anna dengan cemas, namun mereka memilih untuk tetap diam, memberi ruang bagi apa yang akan terjadi.
Petugas itu menghampiri Anna dengan langkah pelan, membawa sesuatu yang tampak seperti sebuah surat. "Ini... surat ini ditemukan di sebelah Tuan Jay" katanya, menyerahkan surat itu dengan hati-hati, seolah menyadari betapa beratnya momen ini. "Kami sudah memeriksa isinya dan ditemukan bahwa surat ini ditujukan untukmu"
Anna menerima surat itu dengan tangan gemetar, hati yang berdebar dan penuh dengan rasa takut yang tak terungkapkan. Surat itu begitu sederhana, namun ada perasaan yang begitu kuat mengalir di dalamnya. Dengan perlahan, Anna membuka lipatan surat itu, memandangi tulisan tangan Jay yang tak asing lagi, meskipun kini terasa begitu jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]
Fiksi Penggemar(END) Anna, seorang gadis muda yang hidup dalam keterbatasan di kota, menjalani hari-harinya dengan penuh perjuangan demi adik laki-lakinya, Niki. Tanpa orangtua, Anna tumbuh menjadi sosok mandiri yang tangguh, menyimpan luka dan kelelahan dalam dia...
![Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/344420486-64-k976238.jpg)