32

815 65 16
                                        

Angin sore yang sejuk berembus lembut, menggoyangkan dedaunan di taman kecil rumah sakit. Anna duduk di kursi roda dengan bantuan Niki, wajahnya terlihat pucat, tetapi setidaknya ada sedikit warna di pipinya setelah sekian lama terkurung di kamar rawat. Keinginannya untuk keluar dari ruangan sempit itu akhirnya dikabulkan oleh Niki, meskipun awalnya penuh kekhawatiran.

"Aku ke dalam sebentar, ya ?" kata Niki sebelum meninggalkan Anna untuk sementara. Dia perlu mengambil sesuatu di dalam, tetapi tidak ingin meninggalkan kakaknya terlalu lama.

Anna hanya mengangguk kecil, matanya memandangi rerumputan hijau di depannya. Tangannya bergerak perlahan, meraba selimut yang menutupi kakinya. Udara segar ini terasa asing, tetapi dia tidak bisa mengingkari kenyamanannya.

Tidak lama setelah Niki pergi, langkah kaki lain mendekat. Jake muncul dari arah yang tidak terduga, tangan di saku celananya. Wajahnya tampak sedikit canggung, seolah tidak yakin apakah kedatangannya akan diterima atau tidak.

"Anna" panggilnya pelan, sedikit ragu.

Anna menoleh, matanya yang lelah menangkap sosok pria itu. "Jake ? Apa yang kau lakukan di sini ?"

Jake tersenyum tipis, mendekat sambil menarik kursi taman di dekatnya. "Niki meneleponku. Dia bilang kau sudah cukup baik untuk keluar kamar hari ini. Aku pikir, mungkin kau butuh teman bicara"

Anna menghela napas panjang, mencoba tersenyum, tetapi sulit untuk menghilangkan kepahitan yang melekat di wajahnya. "Kalau Niki yang meneleponmu, seharusnya dia yang di sini sekarang, bukan aku"

Jake tertawa kecil. "Lagipula, aku ingin melihatmu sendiri. Niki... dia sudah menceritakan semuanya"

Anna terdiam, wajahnya sedikit memucat. "Menceritakan semuanya ?"

Jake mengangguk. "Tentang apa yang terjadi padamu. Tentang Pria bernama Jay... tentang insiden itu..." Suaranya melembut saat menyebutkan insiden di mana Anna hampir kehilangan nyawanya sendiri. "Dan juga tentang bagaimana kau marah besar saat tahu Niki ingin membalas dendam"

Anna mengepalkan selimut di pangkuannya. Matanya bergetar sejenak, lalu menunduk, tidak sanggup menatap Jake. "Dia seharusnya tidak memberitahumu"

"Tapi dia butuh seseorang untuk diajak bicara" jawab Jake tenang. "Niki sangat terpukul, Anna. Dia merasa bersalah atas semua yang terjadi padamu. Dia merasa seharusnya dia bisa melindungimu lebih baik. Dan saat ini, kau adalah satu-satunya yang dia pikirkan. Dia hanya ingin tahu apa yang harus dia lakukan supaya kau tidak merasa sakit lagi"

Kata-kata Jake membuat dada Anna terasa sesak. Dia menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata.

"Dia tidak perlu merasa seperti itu" gumam Anna akhirnya. "Sampai sekarang, aku selalu memikirkan dia. Aku tidak ingin Niki terluka karena pria itu. Aku tidak sanggup jika sesuatu terjadi padanya"

Jake menatapnya dengan lembut, lalu berkata, "Apa yang kau rasakan sekarang, itulah yang Niki rasakan untukmu, Anna. Dia juga tidak ingin kau terluka. Dia hanya ingin kau bahagia lagi. Tapi dia bingung, dia merasa tidak cukup kuat untuk membantumu"

Anna mengangkat pandangannya, mata mereka bertemu. Kali ini, air matanya tidak tertahan. "Apa yang harus aku lakukan, Jake ? Aku hanya ingin semua ini selesai, tapi aku juga tidak mau kehilangan Niki"

Jake menghela napas, lalu meraih tangan Anna dengan lembut. "Kau tidak akan kehilangan Niki dan dia tidak akan kehilanganmu. Dia bahkan memintaku untuk membantunya mencari cara agar kau bisa keluar dari semua belenggu ini"

Anna termenung, pernyataan itu menggema di benaknya. Jake melanjutkan dengan suara yang meyakinkan, "Kau tidak perlu merasa sendirian, Anna. Ada Niki dan ada aku. Kita akan membantumu, apapun yang terjadi. Kau tidak perlu takut lagi. Jangan biarkan semua ini menghancurkanmu"

Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang