21

1K 69 6
                                        

Minggu pagi, Anna memutuskan untuk pergi ke toko bunga lebih awal. Ia ingin menyibukkan diri, mengalihkan pikiran dari malam-malam penuh ketegangan yang terus menghantuinya. Namun, tubuhnya yang lemah membuat setiap langkah terasa berat. Saat tiba di toko, hujan mulai turun, mengiringi suasana hati Anna yang kelabu.

Sibuk merapikan bunga di rak, Anna terkejut ketika mendengar suara pintu kaca toko terbuka. Ia menoleh dan melihat Jay berdiri di ambang pintu, dengan setelan rapi yang tidak sesuai dengan suasana santai toko bunga. Senyum tipis di wajahnya membuat jantung Anna berdebar tidak nyaman.

“Kukira kau butuh istirahat, tapi ternyata kau malah bekerja” ucap Jay, nadanya datar namun penuh sindiran.

Anna menunduk, merapikan tangannya yang gemetar di balik meja kasir. “Aku hanya butuh kesibukan” jawabnya pelan, berharap Jay tidak memperpanjang pembicaraan.

Jay mendekat, jarak mereka terlalu sempit untuk kenyamanan Anna. Ia menatap bunga-bunga yang tersusun rapi, seolah menilai sesuatu yang tak kasatmata. “Kesibukan, ya ? Kau pikir ini cukup untuk melupakan semuanya ?”

Anna tidak menjawab. Ia tahu setiap kata yang keluar dari mulut Jay selalu penuh makna ganda, seperti perangkap yang siap menjebaknya kapan saja. Ia hanya bisa menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Aku akan menjemputmu malam ini” kata Jay akhirnya, suaranya lebih lembut namun tetap memerintah. “Ada hal penting yang perlu kita bicarakan. Jangan coba-coba menghindar”

Tanpa menunggu jawaban, Jay berbalik dan meninggalkan toko. Suara pintu kaca yang tertutup terdengar seperti palu yang mengetuk hati Anna. Ia merosot ke kursi di belakang meja, menahan air mata yang mulai mengalir.

***

Malam harinya, Anna berdiri di depan cermin kamarnya. Wajahnya pucat, matanya sembap. Ia merasa seperti boneka yang dipaksa memainkan peran yang tidak pernah ia pilih. Namun, tidak ada pilihan lain. Jay selalu menemukan cara untuk membuatnya patuh, dengan ancaman-ancaman halus yang menghantui pikirannya.

Suara klakson mobil di luar membuatnya tersentak. Jay sudah datang. Dengan langkah berat, Anna keluar dari rumah dan masuk ke mobil yang diparkir di depan.

Mobil terus melaju ke arah yang tidak dikenal Anna. Kepalanya berputar, mencoba menebak ke mana Jay membawanya, tetapi setiap tebakan hanya memperburuk kecemasan di dadanya.

Jay mengendurkan pegangannya pada setir, satu tangannya bergerak ke tombol radio, memutar stasiun dengan acuh. Lagu yang mengalun terdengar lembut, namun atmosfer di dalam mobil tetap menyesakkan.

“Kau tahu” Jay mulai, nada suaranya ringan, hampir santai, “aku selalu suka saat-saat seperti ini. Hanya kita berdua, jauh dari semua kekacauan dunia”

Anna tidak menjawab. Ia menatap keluar jendela, mencoba mengabaikan suara Jay yang menelusup ke dalam pikirannya.

“Lucu, ya ?” Jay melanjutkan, seolah berbicara sendiri. “Dari semua orang di dunia ini, kau yang akhirnya ada di sini bersamaku. Seperti takdir”

Anna mengepalkan tangannya di pangkuan, mencoba meredam getaran yang mulai terasa.

“Takdir ?” Ia akhirnya bersuara, nyaris berbisik. “Aku tidak percaya pada takdir”

Jay tertawa kecil, suara itu terdengar akrab tetapi sekaligus menakutkan. “Tentu saja kau tidak percaya. Kau selalu mencoba mengontrol segalanya, Anna. Tapi lihat di mana kau sekarang. Di sini. Bersamaku”

Anna menutup matanya sejenak, menahan napas.

“Kau membuatnya terdengar seolah-olah aku punya pilihan” gumamnya.

Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang