17

1.2K 91 8
                                        

Jay duduk di balik meja kerjanya yang besar, dikelilingi oleh tumpukan dokumen dan layar monitor yang menampilkan data-data penting. Sejenak, ia bersandar di kursinya, mengambil ponsel dari saku jasnya sambil menyesap kopi. Ia bermaksud sekadar memeriksa notifikasi yang masuk di sela pekerjaannya. Namun, tatapannya berubah serius ketika sebuah notifikasi bank muncul di layar ponselnya.

Ia membuka notifikasi itu dan matanya segera tertuju pada nominal transfer yang tidak kecil, disertai nama pengirim, Anna.

Jay memandangi layar itu cukup lama, seolah mencoba memahami apa yang baru saja ia lihat. Wajahnya yang biasanya tenang mulai berubah, ekspresi bingung dan curiga bergantian muncul. "Uang sebanyak ini... dari mana dia mendapatkannya ?" gumamnya pelan, nada suaranya datar namun sarat kekhawatiran.

Rahang Jay mengeras, dan ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan yang nyaris kasar. Ia meraih jaketnya yang tergantung di kursi, lalu berdiri. Tatapan tajamnya mengarah keluar jendela kantor yang besar, menatap kosong ke pemandangan kota di bawahnya.

***

Anna berdiri di bawah matahari, menggantungkan pakaian basah di jemuran. Udara sore yang segar biasanya menenangkan pikirannya, tetapi tidak hari ini. Ada beban di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Namun, ia mencoba sibuk, memusatkan perhatian pada pekerjaannya.

Sebuah suara langkah kaki yang familiar tiba-tiba memecah keheningan. Anna menoleh dan langsung terkejut. Jay berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam yang rapi. Wajahnya tampak tegang, matanya menatap tajam ke arahnya.

"Jay ?" Anna bersuara pelan, tangannya berhenti di tengah-tengah gerakan menggantung pakaian. "Kenapa kau di sini ?"

Jay tidak langsung menjawab. Ia melangkah lebih dekat, menghentikan diri tepat di hadapan Anna. Wajahnya serius, dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Aku mendapat notifikasi pagi ini" katanya akhirnya, suaranya rendah namun tajam. "Sejumlah uang masuk ke rekeningku. Uang darimu. Jelaskan, Anna. Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu ?"

Anna mendesah, berusaha menenangkan dirinya. "Itu bukan urusanmu, Jay" jawabnya tanpa menatapnya langsung. "Yang penting aku membayar hutangku, seperti yang kau minta"

"Bukan urusanku ?" Jay tertawa sinis, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. "Dari mana kau dapat uang itu, Anna ? Apakah kau meminjam ? Atau—" ia berhenti, menahan dirinya untuk tidak mengucapkan sesuatu yang lebih buruk.

Anna mendongak, tatapannya tajam. "Aku bekerja keras, Jay. Itu yang harus kau tahu. Aku berusaha memenuhi janjiku, melunasi hutang ini agar bisa lepas darimu"

Kata-kata itu seperti tamparan di wajah Jay. Ia menatap Anna dengan ekspresi yang tidak bisa dipercaya, lalu tertawa kecil, getir. "Lepas dariku ? Jadi, itu tujuanmu selama ini ? Melunasi hutang agar bisa pergi ?"

Anna mengepalkan tangannya, mencoba menahan emosinya. "Bukankah itu yang kau katakan dulu ? Kau bilang kalau aku melunasi hutangku, kau akan melepasku. Jadi, apa yang salah dengan semua ini ?"

Jay mendekat, menatap Anna dengan intensitas yang membuatnya merasa kecil. "Apa yang salah ?" katanya, suaranya rendah tetapi penuh emosi yang menekan. "Yang salah adalah kau berpikir kau bisa menyelesaikan semuanya hanya dengan uang. Seolah-olah kau ingin segera menghapus kehadiranku dari hidupmu"

Anna terdiam, bibirnya gemetar, tetapi ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Jay. "Itu bukan urusanmu bagaimana aku melunasinya. Yang penting, aku melakukannya. Kau seharusnya senang, bukan marah"

Jay menatapnya dengan mata yang hampir tidak berkedip, seolah-olah sedang mencoba mencari jawaban di wajahnya. Lalu ia berkata dengan suara dingin, "Jadi, kau benar-benar ingin aku menghilang dari hidupmu ? Setelah semua yang kita lewati ?"

Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang