Alayna duduk di meja kerjanya, matanya menatap kosong ke luar jendela besar yang menghadap ke kota. Meski ia kini duduk di kursi yang dulu diduduki oleh Jay, kursi yang sering digunakan untuk memimpin perusahaan, hari-harinya terasa hampa. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Beberapa hari ini, Jay tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan, tidak ada lagi ancaman atau permainan yang biasa ia lakukan. Keadaan itu membuatnya bingung, sekaligus khawatir. Apakah Jay benar-benar menyerah, atau dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar?
Tatapan Alayna kembali tertuju pada kertas yang tergeletak di depannya. Surat perceraian. Mata Alayna menyempit saat melihat tanda tangan Jay yang tercetak di sana. Tidak ada penjelasan, tidak ada kata-kata permintaan maaf atau penyesalan, hanya tanda tangan yang cukup untuk mengakhiri ikatan mereka. Ia menatap surat itu dengan perasaan campur aduk, bingung. Mengapa sekarang? Mengapa setelah semua yang telah terjadi, Jay memilih untuk mengajukan perceraian dengan cara seperti ini? Bahkan, di tengah kekacauan yang sedang melanda perusahaan, Jay tampak memilih untuk melepaskannya begitu saja.
Alayna menarik napas panjang, merasa bingung. Mungkin ini yang terbaik, pikirnya, mungkin memang sudah waktunya mereka berpisah. Tetapi meski begitu, kenangan-kenangan bersama Jay, meski buruk sekalipun, tidak bisa begitu saja lenyap dari pikirannya. Mereka pernah menjalani hidup bersama walau singkat. Namun sekarang, semuanya terasa jauh, seperti bayangan yang semakin memudar. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Jay? Apakah dia benar-benar ingin melepaskannya?
Pikirannya terhenti sejenak saat pintu ruangan terbuka dan Heeseung masuk dengan langkah tenang. Alayna memandang pria itu sejenak sebelum kembali menatap surat perceraian yang ada di hadapannya.
Heeseung merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dengan sikap Alayna. "Ada apa?" tanyanya pelan, sambil menutup pintu dan mendekat. Ia sudah bisa menebak bahwa Alayna sedang bergulat dengan perasaan yang rumit dan ia ingin memberi ruang bagi wanita itu untuk berbicara.
Alayna menghela napas panjang, menatap Heeseung dengan mata yang sedikit kosong. "Jay mengajukan perceraian" katanya, suaranya terdengar datar, tetapi bisa terasa betapa perasaan itu membebaninya. "Semuanya terasa begitu mudah bagi dia. Aku tidak mengerti, Heeseung. Kenapa dia diam saja? Apakah dia benar-benar menyerah atau dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar?"
Heeseung menatap surat itu sejenak, lalu kembali mengamati Alayna. Ia tahu betul bahwa perasaan Alayna sekarang sangat kacau dan itu wajar. Namun, ia juga tahu bahwa di balik kebingungannya, ada kecemasan yang mendalam.
"Dia bisa saja berpura-pura, tapi itu bukan masalah utama sekarang" jawab Heeseung dengan tenang, memilih kata-kata yang hati-hati. "Masalahnya adalah, kita belum menemukan Anna. Apa yang sebenarnya terjadi di balik semua ini?"
Alayna menundukkan kepala, merenung. "Aku khawatir, Heeseung. Apa dia benar-benar sudah menyerah? Ataukah ini hanya awal dari rencana yang lebih besar yang sedang ia persiapkan? Aku merasa tidak ada yang pasti lagi. Segalanya terasa seperti teka-teki yang tidak terpecahkan"
Heeseung mendekat, menyandarkan dirinya pada meja di depan Alayna. "Kau tidak bisa begitu saja mengandalkan ketenangan Jay saat ini. Mungkin dia memang tampak tenang, tapi siapa yang tahu apa yang sedang dipikirkan dalam kepalanya? Yang perlu kita fokuskan adalah menemukan Anna. Tanpa itu, kita tidak akan tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi"
Alayna merasakan kegelisahan itu kembali muncul dalam dirinya. "Aku tidak bisa diam saja. Aku tidak bisa membiarkan Jay terus seperti ini. Aku harus memastikan bahwa dia tidak bisa lagi mengendalikan segalanya"
Mereka terdiam sejenak, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Alayna tahu, meskipun ia kini memegang kekuasaan di perusahaan, ada sesuatu yang lebih besar yang harus ia hadapi. Jay, dengan segala kekuasaannya, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Namun yang lebih mendesak, adalah menemukan Anna. Tanpa Anna, semua yang mereka lakukan akan sia-sia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]
Fanfic(END) Anna, seorang gadis muda yang hidup dalam keterbatasan di kota, menjalani hari-harinya dengan penuh perjuangan demi adik laki-lakinya, Niki. Tanpa orangtua, Anna tumbuh menjadi sosok mandiri yang tangguh, menyimpan luka dan kelelahan dalam dia...
![Master ft Jay Park of Enhypen [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/344420486-64-k976238.jpg)