72 : K3C3W4 🥀🍂

479 33 27
                                        

Haaiiii, hepi riding!!!

Entahlah part ini🙃🙃🙃

..

..

..

Sejak keributan malam itu, keduanya kini berubah menjadi pendiam. Haechan yang biasanya akan mengomel ketika cemburu, dia hanya diam dan bicara seperlunya saja.

Sama halnya dengan Jeno. Meskipun pada dasarnya dia bukan orang yang suka banyak bicara, tetapi dia tidak pernah sependiam ini.

Malam ini final konser Dream di Seoul tengah berlangsung. Acara pembukaan telah selesai, para dancer tengah break di ruang tunggu sembari menunggu naik ke panggung di sesi berikutnya. Saat ini Dream tengah tampil tanpa dancer, beberapa dari mereka menonton penampilan mereka lewar layar di ruangam itu.

"Woaah,  mereka selalu keren." seru salah satu dari mereka.

"Jeno Sunbaenim tidak mungkin membuka bajunya lagi, kan? Ini musim dingin." celetukan yang lainnya di sambut tawa teman-temannya.

"Yang benar saja?" gelak lainnya.

"Ya, kenapa dari pagi kau banyak diam?" Misoo menyenggol bahu Jia.

"Aku lagi pusing sama sikap mereka."

"Wae?"

"Mereka mendiamkanku."

Misoo mengangkat dua alisnya. "Mwo? Kenapa tiba-tiba?"

"Beberapa hari yang lalu, mereka ribut di depanku. Jeno meminta aku menginap, tapi Haechan menyeretku pulang." Jia berbisik pelan.

"Wah, gila." Misoo terperangah mendengarnya.

"Kalau Haechan, aku tahu dia masih marah karena aku berada di kamar Jeno, tapi Jeno? Kenapa dia tiba-tiba menjadi pendiam?"

"Mungkin ada sesuatu yang mereka berdua bicarakan?" tebak Misoo.

Jia mengerutkan dahinya untuk berfikir. "Mungkinkah?" gumamnya, bertanya pada diri sendiri.

.....

Konser telah selesai dengan sukses dan meriah. Pada sesi terakhir, semua member dan para dancer berfoto bersama. Tentu saja Jia berada di belakang dua pria itu. Mereka melirik padanya sebagai isyarat agar mendekat padanya.

Saat turun panggung, Jia mendapat panggilan dari Ibu Haechan agar menemuinya di backstage. Para member masih berada di panggung untuk berpamitan dengan para penggemar.

"Jia-ya,"

"Eomonim," Jia tersenyum memanggilnya. Beliau langsung menyambutnya dengan pelukan bersama dengan Ayah Haechan. Hanya nampak kedua orang tua Haechan saja yang datang tanpa adik-adiknya.

"Apa Eonni tidak datang?" tanya Jia.

"Seungyeon datang, tapi dia buru-buru pulang. Sudah lelah katanya."

"Oh, begitu." Jia mengangguk dengan senyumnya.

"Eoh, ini Jia?"

Jia yang tengah mengobrol dengan Ibu Haechan, menoleh pada suara wanita yang tidak asing, menyapanya.

"Ah, eomonim. Annyeonghaseo ..." Jia langsung menyapa Ibu Jeno dengan senyum ramah. Wanita itu tersenyum dan memeluknya.

"Aigoo, kapan datang lagi ke rumah eomma?"

"Ah," Jia menggaruk tengkuknya kikuk. "Belum tahu, Eomonim."

"Omo, sepertinya hubunganmu dengan Jeno mulai serius, ya?" kekeh Ibu Haechan.

POISON [COMPLETED] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang