SORE STORY : 5 (Mencariku?)

639 45 71
                                        


Jeno dan Jisung berniat akan melakukan syuting konten kelompok yang menceritakan kegiatan keduanya, namun siapa sangka akan bertemu dengan seseorang yang telah menghilang selama bertahun-tahun. Parahnya lagi, dia bersama dua anak yang memanggilnya 'Ibu'.

Setelah pertemuan tak sengaja tersebut, Jeno meminta semuanya masuk ke dalam mobil perusahan saja agar lebih aman untuk berbicara.

Kalau sudah seperti ini, Jia tidak bisa lagi menyembunyikannya, akhirnya dia menceritakan semua yang telah ia sembunyikaan selam bertahun-tahun. Hal itu sukses mengejutkan semuanya  --Jeno yang paling terkejut disini. Dia terdiam kaku memandang bocah yang persis dengan dirinya tengah makan bersama adik perempuannya di kursi belakang.

"Jia-ya, dia sungguh ... anakku? Darah dagingku?" Jeno masih sulit membedakan  apakah ini mimpi atau kenyataan.

Seumur hidupnya, ini adalah kejutan terbesar yang pernah ia dapatkan. Jeno sungguh tak menyangka selama ini dirinya telah menjadi Ayah.

Jia tahu Jeno sangat terkejut, dia pasti sulit menerima kenyataan bahwa dia telah menjadi Ayah tanpa dia tahu. Hal itu secara alami membawa pikirannya terbang membayangkan bagaimana reaksi Haechan jika dia tahu telah menjadi Ayah pula.

Tidak. Jia lebih khawatir Haechan akan benci padanya yang telah melahirkan  anak dari pria lain.

"Jia-ya, aku masih tidak menyangka bocah yang kita temui di bandara waktu itu ternyata anakmu. Anak kecil memang tidak pernah berbohong." Jisung bergumam dengan keterkejutan yang tersisa. Hal yang masih membuatnya terkejut, kasus langka yang telah Jia alami. sunguh mengejutkan dia bisa mengandung dua janin dari gen yang berbeda secara bersamaan.

Kali ini Jisung paham mengapa Jia lebih memilih menghilang. Dia melakukan semua itu untuk kebaikan semuanya termasuk karir mereka, Jia benar-benar menanggung beban seperti itu sendirian.

"Aku juga tidak menyangka Haera akan bertemu kalian." Jia menyungging tipis, mengingat pertemuan tak sengaja mereka saat itu.

"Jia-ya, apa selama ini kau baik-baik saja?" kali ini Jeno bersuara setelah berhasil menyadarkan dirinya bahwa ini kenyataan.

Jia mengangguk pelan dengan senyum tipis. "Eung, aku baik-baik saja. Ada banyak orang di sekitarku."

"Kenapa ..." Jeno lalu bersuara dengan suara yang sangat pelan. "Kenapa kau menyembunyikan semua ini?" sambungnya. Tampak sekali dia tengah sekuat tenaga menahan air matanya.

"Oppa, ini kesalahanku, cukup aku yang menanggung sendirian." Jia menggigit bibirnya.

Jeno mendengus samar. "Kau tidak melakukan kesalahan sendirian Jia-ya." gumamnya.

"Oppa, hal itu sudah berlalu. Kau tidak perlu merasa bersalah."

"Aku masih waras, bagaimana mungkin aku tidak merasa bersalah?" balas Jeno, tak habis pikir dengan pemikiran Jia.

Jia meringis tipis, rasa bersalah Jeno tercetak jelas di wajahnya. "Oppa, gwenchana." ia lalu memandang putranya. "Lihatlah, Jaeha sudah besar, tidakkah kau ingin memeluknya?"

Pandangan Jeno kembali teralihkan pada putranya. Sejak tadi ia tengah bergelut dengan pikirannya sampai melupakan putranya sejenak.

Ah, sekali lagi, putranya?

Kata itu masih sedikit asing di lidahnya.

"Jaeha-ya," suara Jeno bergetar saat memanggilnya.

Jaeha yang sedang asik memakan snack, mengangkat wajahnya. Matanya bertemu pandang dengan Ayahnya, tetapi dia hanya diam saja tanpa ada emosi di wajahnya.

POISON [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang