78 : Before Ending

384 29 5
                                        

Ahaaaiiii....

Pakabareuuuu 🤭 masih adakah yg stay di cerita ini? 🤣

Maap nih, lama bgt ya 😂 Sebenernya mikirin ni crt tiap hari, pngen lanjutin, tp kok gak pernah kesampean 😅 ya gini, klo udh telat up seminggu lebih, bisa kebablasan. Soalnya diriku tuh moodyan bgt 😭

Yaudeh, yok lanjut bacaa aje..

Hepi reading sangkyu-sangkyuuu yg cangtip 😘

.

.

.

.

.

.

.

==================================

Jia hanya mendapat perawatan sampai sore saja. Kondisinya sudah cukup membaik setelah mendapatkan infus. Selama berada di Rumah Sakit, Haechan merawatnya dengan baik. Dia tidak banyak bicara, hanya bicara seperlunya saja dan meminta Jia banyak istirahat agar kesehatannya cepat membaik. 

"Istirahatlah," Haechan merebahkan Jia di tempat tidurnya.

Jia tidak bisa menolak ketika Haechan membawanya pulang ke apartemennya. Jia hanya diam saja, memandang lama Haechan yang tengah menyelimutinya. Baru setelah Haechan hendak pergi, Jia buru-buru menahan lengannya.

"Hm, ada apa?" Haechan kembali duduk di tepi ranjang.

"Aku sudah tidur seharian," gumam Jia.

Haechan menyungging kecil dan mengangguk sembari membenarkan posisi Jia menjadi duduk bersandar di headbed.

Nyuuuuttt.

Rasanya nyeri. Jia memalingkan pandangannya ke arah lain dengan cepat, tidak sanggup menatap matanya yang memancarkan kehampaan.

"Oppa, maaf." lirih Jia.

Memandang lama wajah gadis itu yang tak ingin menatapnya, Haechan lantas menunduk. Pandangannya jatuh pada tangan yang di balut dengan kain perban. Haechan lantas meraih tangan itu dengan lembut. Memandang lama tangan yang terbalut kain tersebut.

"Pasti sangat sakit," gumamnya pelan.

Jia menahan kuat bibirnya, sebisa mungkin tidak mengeluarkan isakan ataupun tangisan kecil di hadapannya.

Tapi kalau boleh jujur, itu sangat sakit. Jia tidak tahu dirinya akan seberuntung ini, mendapat kesempatan kembali menghirup udara di dunia. Dirinya menyesali tindakan bodohnya yang merugikan diri sendiri. Tindakannya ini pula membuat teman-temannya khawatir, terlebih Jeno yang menyaksikan langsung di depan matanya. Ini pasti menjadi pukulan paling keras untuknya. Dirinya yang mencoba bunuh diri tepat di depan mata pria itu, pasti membuatnya sangat terkejut. Jia merasa bersalah pada Jeno yang membuatnya terus menyalahkan dirinya sendiri.

"Jia-ya," Haechan kembali menatapnya.

"Eung?" Jia menyahut pelan.

"Melihatmu terluka seperti ini, kau tahu apa yang kurasakan?"

Jia meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

"Aku ikut merasakan sakit yang teramat, kau tahu?" gumamnya, dengan sedikit kata penekanan. "aku sungguh tak bisa melihatmu terluka sedikit saja."

Jia mengangguk pelan. "Aku tak akan mengulanginya lagi," mulutnya tak mungkin mengatakan bagaimana bingungnya saat itu demi bisa mengakhiri hubungannya dengan Jeno.

"Aku tidak tahu apapun, bahkan Seungyeon tak mau mengatakan apapun padaku penyebabmu melakukan ini."

"Oppa," Jia mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap pria itu. "Sekarang aku sudah baik-baik saja, bisakah kau melupakan itu?"

POISON [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang