74 : Lelah

474 39 34
                                        

Apa bgt dah part ini 😔🫠

...

...

...

Selama berhari-hari di kurung di dalam kamar Jeno, Jia hanya duduk, diam, melamun, menonton televisi dengan hampa, berharap ada wajah Haechan disana. Sayangnya hanya sedikit saja wajah Haechan yang melintas di televisi tentang liputan konser tournya.

Tubuh dan pikirannya mulai lelah. Jia malas memikirkan bagaimana cara keluar dari kamar Jeno. Biarlah Jeno merasa puas dulu dengan apa yang dia lakukan, hanya butuh waktu sedikit lagi untuk membuatnya bisa melepaskannya.

Jia duduk menekuk lututnya, di depan dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi di malam hari dan salju yang masih belum mencair di pepohonan dan jalanan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jia duduk menekuk lututnya, di depan dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi di malam hari dan salju yang masih belum mencair di pepohonan dan jalanan. Lampu kamarnya ia biarkan mati, hanya bermodalkan penerangan dari langit malam yang tidak terlalu cerah. Pandangannya menatap ke luar sana dengan sorot kosong. Lagi-lagi, air matanya mengalir tanpa bisa di cegah.

Meski berusaha bersabar dengan sikap Jeno, tetap saja dadanya terasa sesak berada di dalam ruangan yang sama selama berhari-hari. Kegelapan ini terasa begitu menyiksanya, ia ingin keluar dari kegelapan yang membungkusnya. Jia ingin keluar dari semua hal itu, dan menata hidupnya lebih baik lagi. Tidak masalah jika itu akan menghancurkan semuanya, karena itu hanya satu-satunya jalan yang paling aman.

Drap, drap!

Jia langsung mengusap pipinya mendengar suara langkah di luar. Jeno sudah pulang, namun Jia tetap tidak beranjak dari duduknya. Pandangannya tetap terarah pada pemandangan di luar.

Ceklek.

"Jangan nyalakan lampunya," tahan Jia begitu Jeno membuka pintu dan tangannya hendak meraih saklar.

"Gelap,"

"Aku lebih suka gelap,"

Jeno diam selama beberapa saat, memandang gadis yang duduk di lantai depan dinding kaca. Lantas ia melangkah masuk dan memilih menyalakan lampu tidur yang tamaram. Di tengah cahaya minim itu, Jeno bisa melihat bagaimana kacaunya Jia. Hatinya serasa teriris melihat penampilannya yang sangat buruk karenanya.

Membuang pandangannya sejenak, Jeno lantas mendekat padanya. Dia mengangkat tubuhnya yang bertambah ringan tanpa suara, lalu mendudukannya di ranjang dan menyelimuti kakinya. Gadis itupun hanya diam saja tanpa pemberontakan.

"Oppa, kenapa kau lakukan ini padaku?" Jia menatap pria yang duduk di tepi ranjang.

Jeno balas memandangnya lama. "Kau tahu jawabannya, kenapa aku sampai seperti ini padamu."

"Ini berlebihan, Oppa,"

"Aku hanya ingin kau berada disisiku." 

"Kau tidak bisa memaksa seperti ini,"

POISON [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang