SORRY HEART [END]

528 36 16
                                        

Jia telah kembali ke rumahnya setelah menginap sehari di rumah orang tua Haechan. Ia mengunjungi keluarga Haechan untuk berpamitan.

Tentu saja, mereka terkejut mendengar keputusan Jia yang berpamitan secara mendadak. Terlebih lagi, sebelumnya Jia pernah menyatakan bahwa ia tidak tertarik untuk melanjutkan studi—apalagi ke luar negeri.

Awalnya, ibu Haechan kurang setuju. Beliau menyarankan agar Jia melanjutkan studi di Korea saja. Namun, Seungyeon yang mengetahui alasan di balik keputusan Jia, membantu meyakinkan ibunya.

Di sisa waktu yang ada, Jia benar-benar memanfaatkannya untuk bersama keluarga Haechan. Mereka memasak bersama, makan di meja yang penuh tawa, dan menghabiskan malam dengan menonton film.

Ibu Haechan tak henti memberinya nasihat. Suaranya lembut, namun penuh ketegasan—mengingatkan Jia bahwa hidup di negeri orang bukanlah hal yang mudah.

"Jangan hilang kabar," ucapnya dengan mata berkaca. Jia merasa hatinya terenyuh mendengar pesan-pesan dari Ibu Haechan. Beliau adalah orang paling tulus yang pernah ia temui di dunia, Jia tentu sangat betuntung bisa menjadi bagian dari orang yang disayang olehnya.

Jia juga diminta untuk tetap rutin memberi kabar, agar mereka tidak kehilangan kontak.
Sebab, jika hal itu sampai terjadi, mereka tidak ingin lagi menganggap Jia keluarga.

Hal itu menyadarkan Jia betapa besar kasih sayang yang ia dapatkan di keluarga ini.
Kebaikan mereka selalu menjadi kekuatan untuknya disaat ia tidak memiliki sosok keluarga di sisinya. Dengan memiliki mereka dan juga Haechan, Jia tidak pernah merasa sendirian di dunia ini. Jia sangat berterimakasih pada mereka yang telah melengkapi hidupnya.

Hanya saja, ia ingin menjauh dulu dari masalah rumitnya. Dalam hatinya tak henti meminta maaf pada orang tua Haechan yang begitu baik padanya. Keburukannya terlalu memalukan untuk diakui di depan mereka, Jia takut mereka akan membencinya jika mengetahui semuanya. Jia sungguh tak sanggup menanggung rasa kecewa mereka padanya.

...

Haechan berdiri di kusen pintu kamar Jia, kedua tangannya terlipat memandang gadis itu yang tengah sibuk, lebih tepatnya berlagak sibuk.

Haaaahhh!

Menghela nafas kasar, pandangan Haechan menengadah ke langit-langit kamarnya, menahan cairan di dalam matanya.  Akhirnya tiba hari dimana Jia harus pergi, tepatnya hari ini ——entah berapa menit lagi, Jia akan pergi.

Hari ini hari yang sangat berat untuknya, Haechan bahkan sampai mengambil cuti sakit sehari untuk menenangkan diri. Dia tidak akan fokus bekerja disaat suasana hatinya tengah memburuk.

Siapa sih, yang akan senang di tinggal oleh gadis yang di cintainya? Haechan tidak rela, tetapi terpaksa harus merelakan.

"Jia-ya, kemarilah." Haechan menatapnya lelah.

Barang-barang Jia yang akan dibawa telah dikemas rapih di dalam koper sejak lama. Jia hanya berpura-pura sibuk berharap pikiran kacaunya tidak tampak, tetapi dia lupa kalau Haechan sangat peka. Dia jelas tahu tingkah bodoh gadis itu.

Jia akhirnya berhenti, kemudian melangkah pelan pada Haechan. 

"Lama sekali," Haechan yang tidak sabar, menarik tangan Jia sampai gadis itu hampir menubruk dadanya.

"Bisa kau berhenti? Aku pusing melihatmu yang pura-pura sibuk."

Jia meringis tipis, tentu saja Haechan bisa membaca tingkahnya. "Eung——" gumamnya kaku.

POISON [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang