68 : Makan Malam

294 31 13
                                        


Jia-ya, pulang denganku nanti.

Jangan menolaknya lagi!

Jia menggigit kecil bibirnya membaca pesan dari Jeno. Sudah berhari-hari ia menolak ajakan Jeno dengan berbagai alasan. Hari ini tidak mungkin Jia menolaknya lagi atau dia akan curiga padanya yang tengah berusaha menjauh.

Ne, Oppa.

Hari sudah malam ketika mereka baru saja selesai latihan persiapan konser final yang tidak lama lagi akan datang. Semua orang yang ada di ruangan itu kelelahan. Pemandangan para member yang hanya mengenakan kaus tanpa lengan bahkan sampai bertelanjang dada, itu sudah hal biasa setiap kali mereka latihan ketika off cam.

Jia melirik Haechan yang tengah meminum air mineral sambil mengelap keringatnya. Kali ini ia sedang tidak ingin membuat alasan pada Haechan. Jia keluar dari ruangan itu secara diam-diam agar tidak disadari olehnya.

...

Jia baru saja masuk ke dalan mobil milik Jeno, tersentak kaget ketika ponselnya bergetar.

Oh, god!

Haechan?!

Ponsel itu masih dibiarkan menyala oleh Jia tanpa mampu untuk menjawabnya. Jia hanya bisa terpaku saja pada layar ponselnya yang menyala.

Ceklek.

Lagi, Jia tersentak seperti maling yang tertangkap ketika pintu mobil terbuka. Jeno dengan senyum manisnya, masuk ke dalam mobil tersebut. Dia langsung menyapanya dengan ciuman di bibirnya begitu duduk.

"Sudah dari tadi?" tanya pria itu.

Jia menggeleng pelan. "Belum begitu."

"Aku akan membawamu ke suatu tempat,"

Jia mengerutkan keningnya. "Kemana?"

Pria itu tersenyum, "nanti kau juga tahu."

Mengerjap pelan, Jia lalu mengangguk. "Eoh, baiklah."

Dddrrrrttttt.

Jeno hendak menyalakan mesin mobilnya, langsung menoleh cepat mendengar getaran ponsel di tangan Jia. Jeno menautkan alisnya melihat raut wajah gadis itu yang berubah kaku. Tanpa perlu bertanya pun, Jeno tahu siapa yang memanggil.

"Eh?" Jia kontan melongo ketika tiba-tiba ponsel di tangannya berpindah di tangan Jeno.

Jeno terperangah singkat melihat layar itu, "haah, tentu saja Haechan. Apa dia lupa kau memiliki pria lain?!"

"Oppa, kembalikan ponselku." Jia menarik-narik lengan Jeno yang bebas.

Jeno hanya diam saja memandang layar ponsel dia, lalu dari ekor matanya, ia bisa melihat gerombolan teman-temannya yang memasuki parkiran. Disana ada Haechan yang masih menempelkan ponsel di telinganya. Raut wajahnya sudah sangat keras tidak mendapat respon dari Jia.

Tut.

Jeno mematikan sambungan itu dan mengembalikan benda itu pada Jia begitu saja. Jia hanya bisa melongo saja dengan tingkahnya itu. Mulutnya bahkan masih bergerak kaku saat Jeno mulai menyalakan mesin mobilnya. Dia langsung membawa mobilnya sebelum sempat berpapasan dengan teman-temannya.

POISON [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang