SIDE STORY 6 : (....)

508 42 60
                                        

Hehehehe ternyata gak bisa up cepet. Maaf yaa, ketunda" mulu. Chapter ini jg lumayan berat kutulis, jadinya makin lama.. Maaf klo cringe 🙈🙈😁

Gak Bisa janjiin cpt deh pokoknya, janjinya cm masih di lanjut, tp ga bs janjiin cpt up 😁makasih yg udh nagih trs sampe ke alam mimpi, nerbener jd keinget trs blm lanjut" 🤣🤣🤣 👍😭

Hepi riding semuanyaaaaa.....

.

.

.

.




"Oppa, ayo kita bicara, tapi tolong lepaskan borgolnya dulu," Jia menunduk dengan suara lirih. Pasrah sudah kalau Haechan akan meluapkan amarah padanya, Jia sudah siap menerimanya hanya saja tidak dengan cara seperti ini. Jia menjadi tidak leluasa dalam bergerak. 

Haechan duduk di tepi ranjang, memandang perempuan yang telah menghilang selama bertahun-tahun. Dirinya tengah sekuat tenaga menahan emosi yang terpendam dari kebohongannya dan kebohongan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana mungkin dia kembali seenaknya seolah tak pernah terjadi sesuatu yang sangat besar sebelumnya? Dia hampir membuat kewarasannya hilang.

"Kapan kau kembali?" Haechan tak mengindahkan permintaannya.

Jia menggigit bibirnya, tampak ragu mengatakannya.

"Jia-ya, jawab!"

"Dua bulan yang lalu," Jia menjawab cepat, nyaris saja terlonjak mendengar intonasi suaranya naik.

Hening selama beberapa detik, tawa kosong Haechan mengudara.

"Jia-ya, kau memang sangat pandai bercanda."

Haechan ingin sekali tertawa terbahak-bahak dengan leluconnya. Mengapa wanita ini begitu tega padanya? Dia bahkan sudah kembali selama itu tetapi tidak ingin segera menemuinya, malah membuat semua orang berbohong padanya.

Jia membuang muka, tak berani menatap maupun membantahnya.

"Pasti menyenangkan, kan, bermain seperti itu dengan adikku?" imbuh Haechan dengan suara yang bergetar.

"Tidak seperti itu——"

Sungguh tidak seperti itu ...

Jia merasakan panas di matanya, bersiap akan menumpahkan isi di dalamnya. Ingatannya secara alami membawanya kembali ke masa lalu yang menyakitkan. Masa dimana menjalani hari-hari tanpa dirinya disisinya. Hari itu sangat berat untuknya, Jia selalu di landa kekhawatiran setiap hari, ia takut Haechan akan membencinya dan cintanya akan hilang karena telah membuangnya.

"Jadi seperti apa?" Haechan membalas dengan raut kosong.

"Maaf," Jia merapatkan kedua bibirnya dengan kuat, sebisa mungkin tidak terisak.

“Maaf pun tak ada gunanya.” Haechan mengalihkan pandangan, matanya sudah memerah. Amarah dan rasa dikhianati menumpuk di dalam dirinya, rasanya terlalu menyakitkan.

"Sekarang katakan, apa alasanmu meninggalkanku?" suara Haechan seperti tanpa daya.

Jia membasahi bibirnya yang terasa kering, namun kepalanya tetap tertunduk. Pandangannya terpaku pada kedua tangannya yang saling meremas di atas pahanya ——saking eratnya sampai membuat jemarinya memucat. Mengapa bibirnya terasa begitu berat untuk mengungkapkan kebenaran padanya? Padahal kata-kata itu mengalir begitu saja saat ia bercerita pada Jeno dan Jisung, namun di hadapannya, semua terasa berat untuk di ucapkan.

"Jia-ya, apa mulutmu kehilangan fungsinya?" Haechan geregetan memandang Jia yang tak kunjung bersuara.

"Oppa, aku salah." Jia menggigit bibir bawahnya, tidak langsung menjawabnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 11 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

POISON [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang