"Oppa, apa kau suka anak perempuan?"
Haechan membenarkan kaca matanya ——mengalihkan pandangannya dari ponsel dan memandang gadis yang tiduran di pahanya. Keduanya sedang menikmati waktu santai di sofa.
"Aku tetap suka mau itu laki-laki ataupun perempuan." jawabnya tersenyum.
Mendengar jawabannya, Jia bangun dari pahanya dengan senyum cerah. "Jinjja?!" serunya.
Haechan mengangguk ——menarik lembut pinggang gadis itu ——tidak membiarkan gadis itu lebih jauh darinya. "Aku suka anak-anak, jadi berikan aku anak yang lucu-lucu."
Jia tersenyum senang, kedua tangannya sudah melingkar erat di pinggang pria itu sembari mencari posisi nyaman di dada lebarnya. "Aku akan memberimu anak perempuan yang cantik."
........
Aku akan memberimu anak perempuan yang cantik ....
Dia sangat cantik Oppa ...
........
"Jia-ya," Haechan tersentak dari tidurnya dengan pandangan linglung.
Baru setelah beberapa detik, ia tersadar dan mengusap wajahnya kasar. "Sialan. Mimpi itu lagi."
Menghela nafas kasar, Haechan segera bangun dari tidurnya dan bersiap untuk keluar. Haechan tengah mempersiapkan wajib militer, hari ini ia akan mulai memotong rambut dulu.
Seperti pada pagi biasanya, ia membersihkan diri dan berpakaian santai. Haechan lantas turun dari apartemennya dan membawa mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Haechan memandang kosong hujan salju di luar jendela mobilnya yang sedang berhenti karena lampu merah. Pikirannya lantas terbang pada arah yang tak pernah berubah.
Ini bahkan sudah tiga musim dingin berlalu, tetapi hatiku masih membeku.
Firasat buruk yang sempat ia rasakan saat melepasnya, ternyata tidak salah. Nyatanya itu peringatan hatinya dari orang yang ia cintai sampai ke tulang-tulangnya.
Bibirnya meringis perih setiap kali mengingat gadis yang masih dicintainya meskipun telah dibuat kecewa lagi olehnya.
Janji yang pernah dia ucapkan, semua hanyalah omong kosong.
Jia menghilang tanpa jejak setelah tiga bulan meninggalkan Korea, nomor dan semua akun SNS di nonaktifkan, serta kontak teman-teman Jia yang ia miliki, mendadak semua tidak bisa di hubungi. Haechan ingin menyangkal kalau Jia tengah melakukan prank, jadi ia menunggu kabarnya hari demi hari dengan keyakinan Jia pasti akan kembali menghubunginya. Ternyata hal itu tidak pernah terjadi bahkan setelah hari berubah menjadi tahun, Jia tak sedikitpun menampakkan dirinya.
Haechan sama sekali tidak lupa.
Rasa sakit hari itu masih terasa sampai sekarang. Haechan masih ingat bagaimana keadaannya hari itu. Rasanya nyaris gila, seakan-akan dunia runtuh menimpanya. Ia sukses dibuat frustasi dan kebingungan brutal saat tak bisa menghubungi Jia. Semua orang yang mengenalnya bahkan Jeno, tak luput dari pertanyaannya, tetapi semua orang tidak ada yang tahu dimana Jia berada.
Haechan tidak tahu apa salahnya sampai Jia tega meninggalkannya. Ia telah tertipu oleh wajahnya yang begitu serius memberikan janji-janji padanya. Namun siapa sangka itu akan menjadi omong kosong ——membuatnya trauma.
Lalu, bagaimana keadaan hatinya saat ini? Ini sudah tiga tahun berlalu.
Sejujurnya, sampai saat ini ia tidak merasakan apapun, hatinya terasa hambar dan lurus-lurus saja. Cintanya yang pernah ia keluarkan secara ugal-ugalan, seolah telah habis untuk orang lama. Saat ini ia hanya menjalankan hidupnya selayaknya berjalan lurus kedepan sambil berusaha tidak menengok kebelakang. Sebab jika ia menengok sedikit saja, hatinya pasti akan hancur dan akan kesulitan untuk berjalan ke depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
POISON [COMPLETED]
FanfictionAku terjebak di dalam hubungan yang gila. ___________________________ Warning ⚠️🔞 #Mature content 💚 #Romance #Drama #Idol #Toxic #ReverseHarem :") Start : 23 Mei 2024 End : 12 Jun 2025
![POISON [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/369412788-64-k147153.jpg)