Jia tahu, tidak seharusnya melakukan ini, namun ia tidak akan tenang jika tidak menyelesaikan masalahnya dengan tuntas. Ia belum sedikitpun mengatakan apapun pada Jeno setelah hari itu.
Haechan Oppa, maaf. Aku ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Jeno.
Sepasang sepatunya berdiri di depan sebuah pintu apartemen. Jia sempat menghubungi kakak Jeno dan meminta ijin untuk bertemu dengan Jeno. Untung saja kakak Jeno memberi ijin menemuinya lantaran kondisi Jeno yang cukup buruk. Dia juga meminta maaf atas tindakan Jeno yang di luar batas.
Beep, beep, beep.
Jia menekan bel apartemen tersebut dengan dada berdebar kencang. Kakak Jeno sudah pergi bekerja, jadi dia memberikan pasword rumahnya pada Jia. Jeno tidak akan membukakan pintu mau bel pintu itu di pencet ribuan kali sekalipun.
Jangan takut, jangan takut. Jia merapalkan kata-kata semangat dalam hatinya.
Kali ini Jia yakin, Jeno tidak akan bertindak gila seperti sebelumnya dan kakak Jeno juga berjanji akan melindunginya jika Jeno kembali bertindak di luar batas. Jadi tak ada yang perlu ia takutkan.
Pandangan yang pertama kali Jia tangkap setelah masuk ke dalam flat tersebut, ruangan yang gelap. Tidak ada siapapun di ruangan itu. Jia kemudian melangkah hati-hati ke kamar yang Jeno tempati di apartemen milik Nunanya.
Tok-tok-tok.
Jia mengetuk pintunya pelan.
Tak ada jawaban.
Jia kembali mengetuknya sampai beberapa kali, namun tak ada jawaban pula. Ruangan itu sangat sunyi, seolah tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Jia yang panik, langsung membuka pintu tersebut dengan tergesa. Untung saja pintu tersebut tidak terkunci.
Ceklek!
"Nuna, jika kau ingin pergi, pergi saja! Jangan pedulikan aku!" suara itu terdengar dari dalam selimut.
Jia terdiam kaku melihat sosok di dalam selimut. Ruangan itu gelap, gorden ruangan tersebut masih tertutup rapat. Menarik nafas pendek, Jia menarik gorden jendela besar itu hingga cahaya terang menembus dinding kaca.
"Nun——" tubuh Jeno seketika membeku melihat siapa yang berdiri di depan jendela kamarnya. Sosok yang amat sangat ia rindukan dan pusat energinya.
Melihat dia yang berdiri di depannya dengan tubuh yang kembali sehat, Jeno merasa lega.
Itu saja.
Lebih baik menghindar darinya saja, itu akan lebih aman untuk hatinya.
Jeno tak ingin mengatakan apapun, dia kembali menarik selimutnya untuk menutupi dirinya kembali. Baru saja kembali berbaring, Jia segera menarik selimut itu.
"Oppa, aku ingin bicara."
Semakin dekat gadis itu, keinginan kuat dalam dirinya semakin menyiksanya. Kedua tangannya terkepal kuat, menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Bayang-bayang Jia mengiris tangannya saat itu masih menghantuinya. Jeno terus menyalahkan dirinya sendiri yang telah menyakiti gadis yang dicintainya. Meski hati kecilnya mengharapkan kehadirannya, tetap saja Jeno masih memiliki rasa malu untuk memintanya bertemu kembali setelah semua yang terjadi. Apapun tentang Jia, sebisa mungkin Jeno menghindarinya.
"Siapa yang menyuruhmu datang." ucapnya dingin.
Jia menelan ludah kaku dengan respon dinginnya. "Ti-tidak ada. Aku hanya ingin berbicara denganmu,"
KAMU SEDANG MEMBACA
POISON [COMPLETED]
FanfictionAku terjebak di dalam hubungan yang gila. ___________________________ Warning ⚠️🔞 #Mature content 💚 #Romance #Drama #Idol #Toxic #ReverseHarem :") Start : 23 Mei 2024 End : 12 Jun 2025
![POISON [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/369412788-64-k147153.jpg)