Bip... bip... bip...
Suara mesin itu menjadi satu-satunya penanda waktu di ruang ICU malam itu.
Lampu putih di langit-langit memantul di kulit pucat Jimin, membuatnya tampak lebih rapuh dari sebelumnya.
Kepalanya masih terbalut perban, selang oksigen menempel di hidung, dan dada kecilnya naik turun begitu pelan hingga nyaris tak terlihat.
Di balik kaca transparan, Hana berdiri paling depan. Tangannya menempel pada dinding kaca, sementara matanya tak lepas dari wajah anak bungsunya yang kini nyaris tak bergerak.
“Jimin-ah...” suaranya serak, nyaris seperti bisikan yang terhalang napasnya sendiri.
Jihoon berdiri di belakangnya, dengan kedua tangan terlipat di dada, menunduk dalam diam. Pria itu sudah terlalu sering melihat duka, tapi entah kenapa malam ini rasanya berbeda. Jimin bukan hanya anak kandungnya—ia adalah harapan terakhirnya. Harapan untuk menebus kesalahan masa lalu.
Seokjin duduk di bangku panjang dekat dinding. Siku bertumpu pada lutut, kepala tertunduk dalam gelap. Di sebelahnya, Anna berdiri dengan wajah yang juga pucat, masih mengenakan seragam perawatnya.
Ia baru saja keluar dari ruang operasi bersama tim dokter—setelah lebih dari enam jam di dalam, memantau detak yang terus melemah.
“Operasinya berjalan lancar,” suara Anna bergetar pelan, berusaha menenangkan Hana. “Tapi... masa kritis belum lewat. Sekarang semua tergantung pada tubuh Jimin sendiri.”
Hana menatapnya lama, matanya sembab dan lelah. “Dia kuat, kan, suster Anna? Jimin... dia anak yang kuat.”
Anna tersenyum tipis, tapi suaranya nyaris pecah. “Ya, Bi. Dia anak yang sangat kuat.”
Suasana di lorong rumah sakit itu begitu sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak setiap detik, memantulkan waktu yang terasa tak bergerak.
Sampai langkah kaki terdengar mendekat.
Sepatu hak tinggi, suara yang terlalu asing di tengah keheningan malam.
Seokjin langsung mendongak. Nafasnya tertahan ketika matanya menangkap sosok wanita itu— Park Sora. Rambut hitamnya terurai berantakan, wajahnya pucat, mata bengkak, dan bibirnya bergetar seperti menahan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
“Saya... ingin melihat Jimin,” katanya pelan.
Hana memejamkan mata sejenak, menelan air mata yang hampir jatuh lagi. Jihoon menatap istrinya sekilas, tapi tak berkata apa pun.
Suasana mendadak menegang.
Seokjin bangkit dari duduknya. Rahangnya mengeras, suaranya serak namun tajam.
“Untuk apa datang ke sini, hah?”
Nada itu membuat semua orang membeku. “Kau baru ingat dia anakmu setelah hampir membunuhnya, Park Sora?”
Wanita itu menunduk, kedua tangannya bergetar hebat. “Aku... aku tahu aku tak punya hak. Tapi tolong, Seokjin-ah... izinkan aku melihatnya sekali saja.”
Anna menatap mereka, ingin bicara tapi memilih diam. Hanya suara mesin dari dalam ruang ICU yang terus berdetak pelan—seolah ikut menyaksikan luka yang kembali dibuka malam itu.
Jihoon akhirnya melangkah maju. Suaranya berat, tapi tetap berusaha tenang. “Sora-ssi, kami tidak melarang siapa pun mendoakan Jimin. Tapi keadaan di sini tidak bisa dibuat gaduh.”
Sora menatap Jihoon—pria yang berstatus ayah dari puteranya itu .
Air mata jatuh tanpa ia bisa hentikan. “Aku tidak ingin membuat gaduh. Aku hanya ingin memohon... memohon pada anakku untuk bertahan sedikit lebih lama. Hanya itu.”
Seokjin menghela napas panjang, tapi matanya tetap merah. “Anakmu?” katanya sinis. “Kau bahkan hampir menjualnya empat bulan lalu.”
Kata-kata itu seperti petir di tengah kesunyian.
Hana langsung menarik tangan Seokjin, mencoba menenangkannya.
“Seokjin, cukup...” ucapnya pelan. Tapi putranya menepis.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LAST DAY
Fanfictionketika aku membuka mata di pagi hari bisakah aku melihat senyum mu yang tak pernah ku dapatkan sejak dulu ? maafkan aku Hyung -park Jimin ketika aku melihatmu , sesungguhnya saat itu pula aku mengingat semua yang telah berlalu dimana kau dan ibumu...
