Ruang perawatan VIP lantai tujuh malam itu terasa seperti tempat perlindungan kecil.
Sunyi, hangat, dan ditemani cahaya kuning redup dari lampu dinding.
Di ranjang tengah ruangan, Jimin duduk bersandar dengan selimut menutup kakinya.
Pipinya pucat, matanya sedikit cekung, namun senyum kecilnya… tetap senyum yang sama.
Senyum yang selalu membuat rumah itu terasa lebih hidup.
Hana duduk di tepi ranjang, mengusap pelan rambut putra bungsunya.
Sementara Seokjin duduk di bangku sebelah kanan dengan kedua kaki terlipat, sambil mengamati adiknya begitu seksama seolah takut Jimin menghilang ketika ia berkedip.
“Ibu,” Jimin memanggil pelan. “Boleh aku makan sup lagi nanti? Yang rasa ayam… aku rindu sekali rasanya .”
Hana tersenyum.
Senyum yang mencoba terlihat kuat meski matanya berkaca-kaca.
“Boleh, sayang. Setelah ini akan ibu hangatkan lagi khusus untukmu. Tapi makan sedikit saja dulu, ya? Perutmu belum boleh dipaksa.”
Jimin mengangguk, lalu menoleh ke Seokjin yang sedari tadi belum berhenti memperhatikannya.
“Hyung… kenapa menatapku seperti itu? Kau takut aku kabur?”
Nada bercandanya ringan, seperti biasanya.
Seokjin mendengus keras.
“Aniya. Aku ingin memastikan kau tidak melakukan hal bodoh seperti—”Ia menghentikan kalimat itu. Bibirnya mengepal.
Jimin mengangkat alis. “Seperti apa?”
Seokjin menoleh cepat, mencoba menghindari tatapan adiknya.
“Seperti… seperti membuat kami khawatir.”Hana menatap kedua putranya, lalu tersenyum kecil.
“Jimin tidak akan melakukan hal seperti itu, Jin-ah. Dia putera Ibu dan adikmu yang sangat baik..”
Jimin terkekeh pelan.
Meski suara tawanya terdengar tipis, ia tetap berusaha mencairkan suasana.
Seokjin justru memiringkan kepala, menatap tinggi rendah tubuh adiknya.
“Ya Tuhan, kau tetap tidak bertambah tinggi, ya? Sudah operasi besar pun masih saja pendek.”
Jimin membuka mulut dengan dramatis, menepuk dadanya.
“Ibu! Hyung menggangguku lagi!”
Hana tertawa kecil meski air matanya tiba-tiba menetes.
Ia segera menyekanya sebelum Jimin atau Seokjin sempat melihat.
“Jin-ah, jangan buat Jimin lelah. Kakak macam apa dirimu?”
“Kakak yang realistis bu ,” jawab Seokjin sambil menyengir.
“Kalau dia tumbuh tinggi, aku pasti khawatir. Itu artinya dia akan jadi rivalku dalam ketampanan.”
Jimin memutar mata.
“Hyung,” katanya sambil menahan tawa. “Kau tidak pernah punya rival dalam hal itu karena tidak ada yang mau melawanmu.”
“YA!” Seokjin memukul pelan paha Jimin.
Mereka tertawa bersama.
Hana pun ikut tertawa kecil meski dadanya terasa sesak—karena tawa itu terdengar seperti sesuatu yang mungkin tidak akan ia dengar lagi esok hari.
Hanya satu hal yang tampak salah malam itu:
sesekali Jimin menyentuh pelipisnya, menahan sakit, tapi tersenyum setiap kali Hana menatapnya.
Seolah sedang mencoba melindungi ibunya.
Seolah sedang mencoba membuat malam itu menjadi malam yang tenang.
---
Ketika jam di dinding menunjukkan pukul 22.17, Jimin tiba-tiba membeku.
Tangan kecilnya mencengkeram selimut.
Bibir bawahnya bergetar.
Mata yang tadi tampak jernih kini mengabur oleh rasa sakit hebat.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LAST DAY
Fanfictionketika aku membuka mata di pagi hari bisakah aku melihat senyum mu yang tak pernah ku dapatkan sejak dulu ? maafkan aku Hyung -park Jimin ketika aku melihatmu , sesungguhnya saat itu pula aku mengingat semua yang telah berlalu dimana kau dan ibumu...
