The last day (28)

188 20 1
                                        


Udara di lorong rumah sakit malam itu terasa berat, seperti menahan napas bersama setiap detik yang berlalu. Lampu-lampu putih di langit-langit berpendar terlalu terang, tapi tak mampu menghapus gelap yang merayap di hati setiap orang yang duduk di ruang tunggu.

Hana menggenggam kedua tangannya erat di pangkuan. Jemarinya sudah kaku, kulit di sela-selanya memucat. Setiap suara dari ruang operasi di ujung koridor membuat tubuhnya menegang. "Tuhan..." bisiknya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Tolong jaga Jimin... anakku..."

Seokjin berdiri beberapa langkah di belakangnya, bersandar di dinding dengan kepala tertunduk. Matanya merah, tapi ia menolak menunjukkan kelemahan. Di tangannya masih tergenggam gelang pasien Jimin yang tadi dilepas sebelum operasi dimulai. "Dia pasti kuat, eomma," katanya lirih, mencoba menenangkan Hana - meski dirinya sendiri tidak yakin.

Jihoon, sang ayah, duduk di sisi lain, matanya menatap kosong ke lantai. Wajahnya kaku, tapi dagunya bergetar sesekali. Ia sudah lama menjadi penopang keluarga ini, tapi malam itu pundaknya terlihat rapuh. "Dokter bilang... kemungkinan suksesnya tipis," ujarnya pelan tanpa menatap siapa pun.

Seokjin menoleh tajam, "Jangan bilang seperti itu, Ayah." Suaranya bergetar di antara marah dan takut. "Dia sudah berjuang sejauh ini. Kau tahu Jimin-dia nggak pernah menyerah."

Jihoon hanya menatap anak sulungnya lama, lalu menghela napas berat. "Ayah tahu. Ayah hanya takut... takut kehilangan lagi."

Suasana kembali tenggelam dalam diam. Detak jam dinding terdengar seperti bunyi jarum suntik yang menghitung waktu mundur.

Anna, perawat muda yang sudah menemani Jimin sejak awal perawatan, berdiri di dekat pintu ruang operasi. Seragam putihnya tampak kontras dengan mata bengkaknya. Ia tak berani banyak bicara, tapi sesekali menatap Seokjin. Ada kekhawatiran di matanya - bukan hanya untuk pasiennya, tapi juga untuk pria yang kini berdiri dengan kedua tangan mengepal, menahan dunia agar tidak runtuh.

"Anna-ssi," suara Jihoon memecah hening. "Kau tahu berapa lama lagi operasinya?"

Anna menelan ludah sebelum menjawab. "Masih berlangsung, paman. Tumornya dekat area penting di otak, jadi mereka harus sangat hati-hati." Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu rapuh, nyaris hancur. "Jimin-ah anak yang kuat. Dokter Lee tidak akan menyerah."

Hana mengangguk pelan, air matanya mengalir tanpa suara. "Dia anak baik... selalu tersenyum, bahkan ketika kesakitan."

---

Sementara itu, di balik pintu logam ruang operasi, dunia terasa berbeda. Dingin. Sunyi.
Mesin-mesin berdengung, menampilkan grafik denyut jantung di layar hijau. Di tengahnya, tubuh Jimin terbaring diam, wajahnya tertutup masker oksigen, kulitnya pucat seperti kertas.

Di sela kebisuan itu, pikiran Jimin melayang.
Suara-suara samar terdengar di kepalanya - seperti gema masa lalu yang berulang.
"Hyung, jangan marah ya kalau aku terlambat lagi... Aku cuma pengen lihat langit malam sebentar."
Tawa Seokjin. Suara Hana yang memanggil dari dapur. Jihoon yang memarahi pelan karena pulang terlalu larut. Semua bercampur jadi satu, lalu hilang dalam gelap.

Ia mencoba membuka mata, tapi cahaya terlalu menyilaukan. Dalam kesadarannya yang mengambang, ia melihat bayangan seseorang berdiri di ujung lorong - samar, seperti mimpi.
"ibu...?" suaranya nyaris tak keluar.

---

Pintu ruang tunggu tiba-tiba terbuka. Seorang wanita dengan mantel gelap masuk, langkahnya ragu. Semua kepala menoleh serempak. Seokjin yang pertama kali berdiri. Tatapannya langsung berubah tajam begitu melihat wajah wanita itu.

"Park Sora." Suaranya dingin, nyaris seperti pisau.

Sora menunduk, matanya basah. "Aku... aku dengar tentang Jimin... aku datang untuk-"

THE LAST DAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang