Pagi itu , dokter datang bersama dua perawat untuk melakukan pemeriksaan terhadap jimin . Sang dokter tersenyum saat mendapati salah satu pasien yang ia tangani sekitar tiga tahun lebih itu tengah tersenyum amat lebar kearahnya .
" Bagaimana perasaanmu anak kecil? "
" dokter Lee... aku ini sudah hampir delapan belas tahun lohh... jangan memanggilku seperti itu !!" Dokter Lee tersenyum lalu menjalankan prosedur pemeriksaannya .
" jadi kau ingin dipanggil bagaimana humm ?"
" Park jimin yang tampan , bagaimana perasaanmu hari ini ? " jawab jimin santai tanpa menyadari lirikan tajam dari sang kakak yang berada di sudut ruangan
" dokter Lee ... apakah diruangan ini ada pasien lain ?" Sahut seokjin yang berhasil membuat seluruh penghuni diruangan itu menoleh kepadanya
" maksutmu apa seokjin-ah..."
" aku bertanya adakah pasien lain di ruangan ini ? Apalagi yang bernama park jimin ? Karena mataku hanya bisa melihat adikku saja dan dia bernama KIM JI-MIN " ucap seokjin dengan melirik tajam sang adik yang tengah menatapnya .
"Ahh aku belum terbiasa hyung .. jangan menatapku seperti itu . Aku-"
" kuingatkan kembali jika namamu itu sekarang KIM JIMIN bukan Park jimin , mengerti!"
"Eung- iya hyung ... galak sekali "
Semua orang tersenyum menatap interaksi keduanya.
*****
Kim Hana , wanita itu duduk menatap jendela besar di depannya . Setelah memastikan jimin terlelap ditemani seokjin , dirinya memilih untuk pergi sekedar meminum teh hangat di cafe depan rumah sakit .
Sejak kedatangan jimin delapan belas tahun lalu , dirinya merasa menjadi seorang ibu seutuhnya . Menyiapkan keperluan sang suami dan putera-puteranya . Ia tak pernah menyesali apa yang terjadi pada keluarganya selama ini . Meskipun tak dapat di pungkiri jika jimin bukanlah darah dagingnya , namun anak itu memiliki banyak sisi baik . Bahkan Hana bisa mengatakan jika jimin adalah sosok malaikat yang diturunkan di tengah-tengah keluarga Kim.
Jimin menjadi seorang anak yang kuat dan mandiri sejak kecil , seperti halnya seokjin . Anak itu memberikan warna kala seokjin harus dengan terpaksa berpisah dengannya karena program studinya. Jimin kecil yang ceria mampu membawa suasana rumah menjadi lebih berwarna , ia tumbuh dengan baik hingga menjadi pemuda tampan yang baik hati dan lembut meskipun ia sering tak dihiraukan oleh sang kakak .
Hingga monster itu datang , bersarang dan tumbuh di dalam tubuh jimin . Membuat tubuhnya semakin lemah setiap hari nya . Di sela-sela ia berusaha mendapatkan perhatian seokjin .
"Anakku harus sembuh , aku tidak akan membiarkan jimin kembali padamu park sera ... " gumamnya lirih saat kembali mengingat malam dimana ia dihubungi sang suami jika jimin masuk rumah sakit karena ulah wanita yang merupakan ibu kandungnya .
" kau sudah menyiakan jimin sera ... kau tidak pantas menjadi ibu dari malaikat ku ..."
Dering telepon membuat hana tersadar , ia segera menerima panggilan itu setelah melihat siapa yang menghubunginya .
" iya sayang , sebentar lagi ibu keruanganmu humm ... jangan merajuk seperti itu . Mau dibawakan pie strawberry ?" Hana kembali tersenyum saat mendengar cicit manja di seberang sana
" ibu tidak sedang berkencan dengan ayah... " hana berjalan memasuki lobi rumah sakit setelah membeli beberapa pie untuk putera kecilnya
" humm ? Seokjin hyungmu pergi dengan suster Anna? Bagaimana bisa ? -"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LAST DAY
Fiksi Penggemarketika aku membuka mata di pagi hari bisakah aku melihat senyum mu yang tak pernah ku dapatkan sejak dulu ? maafkan aku Hyung -park Jimin ketika aku melihatmu , sesungguhnya saat itu pula aku mengingat semua yang telah berlalu dimana kau dan ibumu...
