Seokjin memasuki kamar pribadinya dengan hati kelewat dongkol. Niat hati ingin mencoba untuk mulai memperbaiki hubungannya dengan sang adik namun justru malah dirinya dibuat emosi tingkat dewa oleh nya .
" tau apa dia tentang wanita itu hah ?" Omel seokjin , ia mendudukkan badannya pada kasur empuknya .
Ia kembali menerawang saat wanita tadi sempat memaksa masuk ketika sang ibu berlari ke lantai atas
" sumpah demi apapun , aku muak sekali dengan masalah ini... " seokjin segera menyahut kunci diatas meja belajarnya lalu kembali keluar .
Namun sesampainya di luar kamarnya justru ia mendengar kembali keributan dari kamar diujung ruangan . Seokjin memutar bola matanya jengah dan kembali melangkah menuruni tangga .
Kaki jenjangnya ia bawa untuk memasuki mobil dan melaju menuju kampus nya . Sesampainya di kampus ia justru berjalan menuju kantin , menunggu teman karibnya yang belum juga datang .
" maaf menunggu lama ... "
" aku sudah biasa menunggumu terlalu lama jung hoseok ... " pemuda lain yang kini duduk di hadapannya itu hanya bisa terkekeh mendengar omelan sahabatnya
" ini tugas dari pak shin ... " hoseok menyerahkan beberapa lembar tugas untuk seokjin .
" aku kira kau jadi mengajak adikmu kemari... " seokjin menggeleng keras lalu bersedekap
" aku bertengkar lagi dengannya ... " hoseok melirik seokjin sebentar lalu menggeleng tak mengerti
" Ahh aku ingin membuangnya saja ... "
" bodoh ! " lirih hoseok membuat seokjin mendekatkan tubuhnya pada meja di depannya .
" Apa kau bilang ? "
" kau bodoh seokjin ... adik semanis jimin mau kau buang? Berikan saja padaku ..."
" sialan !" Hoseok tertawa sebentar lalu menatap seokjin dengan tatapan serius
" jadi Apa yang membuatmu ingin membuang adikmu ?"
" dia, melihat park sera datang kerumah dan memakiku juga ibuku karena mengusir wanita itu... "
" tau apa dia soal wanita jalang itu ?"
" Ahh aku rasanya ingin melemparnya dengan buah apel di dalam kulkas ... "
" lalu ?"
" aku memakinya, aku bertengkar dan saling meninggikan suara dengannya . Setelah itu aku berangkat... " seokjin meraih ponselnya saat ia merasakan sebuah getaran pada saku celananya .
Matanya menyipit sebentar lalu setelahnya melebar bulat saat membaca pesan dari sang ayah .
From : ayah
Seokjinie ... ayah dan ibu berada di rumah sakit saat ini , adikmu kembali drop dan kami memutuskan untuk membawa jiminie ke rumah sakit. Bisakah sepulang dari kampus dirimu menyusul kemari ?
" dari siapa ? "
" ayah .. jimin masuk rumah sakit, aku akan berangkat kesana sekarang . Terimakasih seok-ah sudah membantuku membawa tugasku . Aku pergi ... "
" hati-hati seokjin-ah ..." hoseok melambaikan tangannya setelah seokjin pergi dari hadapan nya.
*****
Seokjin menapakkan kakinya pada halaman rumah sakit , tempat dimana sang adik dirawat katanya.
Beberapa kali ia menghembuskan nafas panjang, ada rasa bersalah ketika ia mengingat kembali bagaimana suara kerasnya membentak anak dengan mata sipit itu . Namun tak sepenuhnya bersalah bukan ? Jimin memang memancing emosinya dengan membentak ibu demi wanita yang telah menghancurkan hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LAST DAY
Fiksi Penggemarketika aku membuka mata di pagi hari bisakah aku melihat senyum mu yang tak pernah ku dapatkan sejak dulu ? maafkan aku Hyung -park Jimin ketika aku melihatmu , sesungguhnya saat itu pula aku mengingat semua yang telah berlalu dimana kau dan ibumu...
