THE LAST DAY (30)

237 23 3
                                        

Sudah tiga minggu sejak Jimin membuka matanya kembali.
Rumah sakit kini terasa lebih seperti rumah yang terlalu putih: dinding bersih, tirai krem yang selalu menari lembut saat angin menembus jendela, dan aroma antiseptik yang mulai ia kenal seperti teman lama.

Tubuhnya lebih kuat sekarang. Ia bisa duduk tanpa bantuan, menatap keluar jendela di mana daun-daun kuning gugur satu-satu. Tapi di balik senyum tipisnya, ada sesuatu yang menahan-rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan pada siapa pun.

Dokter mengatakan hasil pemindaian menunjukkan perbaikan. Namun ada titik kecil di layar yang tak hilang-bayangan hitam yang tak pernah benar-benar pergi.
Sel kanker itu masih di sana. Tidur, tapi belum mati.

"Ibu..." Jimin menatap Hana yang sedang merapikan selimutnya. "Aku boleh keluar sebentar? Hanya di taman rumah sakit."

Hana tersenyum kecil. "Nanti, kalau dokter bilang boleh. Kau baru sembuh."

"Tapi aku bosan melihat langit dari balik kaca," gumamnya dengan nada manja.

Nada suaranya lembut, seperti anak kecil yang sedang merengek, dan Hana hanya bisa menghela napas. "Kau memang tak pernah bisa diam, nak. Kau mirip ayahmu kalau sudah ingin sesuatu."

Di luar kamar, Seokjin berbicara dengan dokter. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras setiap kali mendengar istilah medis yang berat.

"Jadi... kemungkinan kambuhnya?" tanyanya pelan.

Dokter menunduk sebentar, lalu berkata hati-hati, "Kami menyebutnya stabil. Tapi bukan sembuh total. Dia masih harus hati-hati."

Seokjin mengangguk, menatap pintu kamar adiknya lama sekali.
Ia tahu "stabil" dalam bahasa dokter sering berarti "sementara".

Saat ia masuk kembali, Jimin langsung menyapanya dengan senyum lebar. "Hyung! Aku ingin makan odeng. Suster Anna bilang di luar rumah sakit ada yang enak."

Seokjin terkekeh kecil, pura-pura tak menunjukkan kesedihan di matanya. "Kau sudah mulai menuntut seperti dulu."

"Karena aku rindu dunia luar," balas Jimin, matanya berbinar. "Aku rindu suara orang, jalan, udara, semuanya. Aku rindu hidup."

Anna yang baru datang membawa nampan sup hangat hanya tersenyum melihat mereka. "Kalau dokter setuju, aku akan temani kamu keluar nanti."

"Janji?" tanya Jimin sambil mengangkat kelingkingnya.

Anna tertawa kecil dan mengaitkan jarinya. "Janji."

Hana memperhatikan percakapan itu dari kursinya. Ia tahu anaknya sedang menyiapkan sesuatu-ada cahaya di matanya yang sudah lama padam tapi kini muncul kembali. Tapi bersamaan dengan itu, ada ketakutan yang menekan hatinya.
Ia tidak ingin menolak kebahagiaan kecil Jimin, meski hatinya berbisik bahwa kebahagiaan itu mungkin harga yang mahal.

---

Malamnya, saat semua tertidur, Jimin masih terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, menatap langit hitam di luar jendela. Lampu kota memantul di kaca, membuat siluet wajahnya terlihat samar.
Ia menulis sesuatu di buku kecil yang diberikan Anna: catatan harian, katanya, untuk membantu memulihkan ingatan.

> "Kalau aku punya satu hari lagi, aku ingin berjalan di bawah langit tanpa dinding putih.
Aku ingin mendengar tawa hyung tanpa rasa bersalah.
Aku ingin membuat suster Anna tertawa, meski dia sedang menahan tangis.
Dan kalau aku harus pergi lagi... biarlah mereka mengingatku dengan senyum."

Pena berhenti di tengah kalimat terakhir. Tangannya bergetar, tapi wajahnya tetap tersenyum.
Jimin tahu tubuhnya membaik, tapi ada sesuatu di dalam kepalanya yang tak pernah berhenti berdenyut, seolah waktu menetes satu demi satu.

THE LAST DAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang