Dino merapatkan topinya sekali lagi, sambil menoleh sesekali ke belakang. Memastikan jalanan ini aman. Untung saja cafè sepi. Dino jadi berani untuk membeli teh nya sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Annyeonghaseo" Mimi menyapa Dino ramah.
"Annyeonghaseo, saya mau melihat menu teh"
Mimi terlihat bingung "Teh ?"
"Iya, yang seperti ini" Dino menunjukan foto teh yang Alana dapat.
"Ah! Apakah anda teman Alana?" Tanya Mimi antusias. Akhirnya teh miliknya mendapat pelanggan lain selain Alana.
"Ne" Dino mengangguk ragu, 'apakah gadis di depannya ini kenal dengan Alana ?'
Mimi tersenyum, seakan mengetahui isi kepala Dino "Saya teman kuliah Alana, sebentar ya"
Dino menghela nafas lega. Setidaknya Alana pasti berteman dengan orang baik.
Mimi kembali dengan dua Jar teh yang belum diseduh.
"Ini yang kemarin seperti Alana beli, dan ini adalah varian yang baru selesai saya kembangkan"
"Apa bedanya ?"
"Yang Alana beli kemarin adalah Hibicus tea, kaya akan anti oksidan dan bisa menurunkan tekanan darah jika dikonsumsi rutin. Sedangkan yang baru ini bagus untuk pencernaan. Bukan seperti obat pencahar, tapi saya menggunakan beberapa bahan alami yang sudah dikeringkan untuk membantu kerja usus."
"Anda yang membuat resep ini?" Tanya Dino takjub
Mimi mengangguk semangat "Benar. Saya ingin membuat minuman yang terlihat menarik dan memiliki khasiat baik untuk tubuh. Sehingga tidak hanya mata yang senang melihat minuman ini, tapi tubuh juga mendapat manfaat"
"Keren sekali ide anda"
Mimi terkekeh "Saya ingin membuat cafè sendiri suatu hari nanti"
"Oh anda bukan pemilik tempat ini ?"
"Saya hanya pekerja paruh waktu. Pemiliknya baik, dia mengijinkan saya untuk mengembangkan menu saya sendiri"
Dino mengangguk paham "Saya ambil dua-duanya. Tapi tidak usah diseduh"
"Baik!" Mimi menjawab dengan senang. Lalu membungkus pesanan Dino.
Dino membayar beberapa lembar Won dan membawa kantung yang diberikan oleh Mimi.
"Terima kasih banyak!" Mimi membungkukkan badan.
"Ne, semangat mengembangkan menu baru. Saya siap mencoba inovasi lainnya"
Mimi terkekeh "Siap!"
Dino ikut terkekeh lalu berjalan keluar cafè.
Mimi menumpu dagunya di kasir. Melihat bayangan Dino yang hilang dari sudut pandangnya. Tapi aroma parfum khas milik lelaki itu tertinggal di cafè ini