bab 17

630 68 14
                                        

Dentuman itu datang seperti badai, menghantam kewarasan yang sudah hampir runtuh. Kepala Heeseung pening, tubuhnya meremang, namun sentuhan itu terasa begitu nyata.

Begitu lembut

Pada ranumnya

Lucunya, semesta malah membawanya jatuh tiba tiba pada tumpukan bangku di belakang sekolanya. Dengan bau pesing pada seragamnya yang kotor dan berantakan, juga rasa sakit pada pergelangan kakinya.

Heeseung bisa melihat ada banyak pasang mata yang memandangnya penuh hina, memakinya, juga mengolak oloknya.

Perut Heeseung sakit, dia batuk darah. Saat itu Heeseung hanya bisa terseok menyeret tubuhnya yang sudah remuk untuk mundur sambil berkali kali memohon ampun pada sosok di depannya itu. Dia tidak mampu lagi untuk berdiri.

" Mau kabur kemana lagi lo cupu. Lo gk bisa lari dari gw. Sialan" Jaeyun menendangnya sekali lagi. Hantaman itu membuat Heeseung hampir kehilangan kesadarannya. Namun dia tau, jika sampai pinsan disini, mungkin dia akan berakhir.

Heeseung belum mau mati.

Dia merangkak. Menggunakan semua sisa tenaganya untuk bergerak.

Heeseung bisa mendengar tawa Jaeyun yang seperti kesetanan. Tatapan penuh cemooh dan umpatan yang tiada henti dilemparkan padanya.

Bunyi dentingan besi beradu kuat dengan kayu mengejutkan indra pendengaran Heeseung.

Mencengkram jiwanya seperti malaikat kematian yang siap menebas sabit di leharnya. Heeseung menangis gemetaran.

Langkah kaki Jaeyun menggema.

Pada saat itu hanya ketakutan yang menguasai jiwanya. Heeseung merapal ribuan doa -memohon untuk di selamatkan. Namun sayangnya Jaeyun sudah terlalu gelap untuk bisa di tembus oleh doa manapun.

Dan saat semua kesakitan itu menjadi nyata.

Heeseung meraung kesakitan ketika merasakan kakinya remuk dihantam berkali kali.

Lalu semua cahaya padam. Kesadarannya jatuh seperti tetesan air hujan. Menarik Heeseung kembali dari jurang kematian

Dalam sekejap dia membuka mata.

Wajah ibunya pucat, cemas, dan penuh kasih. Menjadi hal pertama yang Heeseung lihat ketika bangun. Dan tanpa menunggu apa apa lagi, Heeseung segera memeluk ibunya. Begitu erat, seperti bisikan rasa syukur yang begitu kuat. Meyakinkan dirinya sendiri jika dia benar benar telah berada jauh dari tempat terkutuk itu. Meninggalkan semua ketakutan, rasa sakit, dan trauma paling kelamnya, Shim Jaeyun.

....











.

.

.

Return (Antagonis)
By Js

Pagi itu Heeseung berakhir dengan pemeriksaan lengkap dari dokter ahli milik keluarganya yang jauh-jauh di datangkan oleh Nyonya Lee.

Sangking khawatirnya dengan keadaan putra sulungnya itu, Nyonya dan Tuan Lee terpakasa harus mempercepat jadwal pulang mereka karena takut jika Heeseung kenapa kenapa.

"Demam ringan. Ini hanya gejala flu biasa. Saat ini Heeseung sudah dalam keadaan jauh lebih baik. Dia sudah mengonsumsi obat yang tepat dan cukup istirahat. Tidak perlu waktu lama dia pasti sembuh. Tubuh remaja sehat seperti Heeseung biasanya cepat pulih dari sakit. Anda tidak perlu terlalu khawatir Nyonya Lee " Pak dokter membereskan peralatan medisnya dan menuliskan resep obat yang bisa Heeseung konsumsi nanti. Sebotol vitamin diletakan diatasnya juga.

Return (Antagonis) || HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang