⚠️ CONTENT WARNING ⚠️
Mengandung tema berat dan sensitif terkait trauma dan kekerasan.
Tidak disarankan untuk pembaca di bawah 18 tahun.
.....
"Seung, besok malam kosongin jadwal. Temenin Ayah acara makan malam ya."
Jalanan macet sekali hari ini. Heeseung baru saja sampai di perempatan lampu merah terakhir sebelum masuk ke kawasan perumahan elit kediaman keluarga Shim.
Dia mengetuk-ngetuk setirnya, bosan. Dari seberang sana, Ayahnya masih sibuk bercerita tentang keluarga Yunjin yang ingin bertemu dengannya lagi setelah pertemuan semalam. Banyak bahasan baru—khas tawar-menawar bisnis dan niatan halus di baliknya. Perjodohan.
Heeseung mengerti arah pembicaraan ini. Dia meminta ayahnya untuk mengabari info detailnya nanti saja.
Saat matanya menangkap lampu merah yang kembali berkedip menjadi kuning—lalu hijau, Heeseung menutup teleponnya.
Rasanya belakangan ini terlalu banyak acara yang mengganggu waktunya. Alurnya terlalu kacau, terlalu penuh, sangat sulit diatur. Banyak hal di luar harapannya terjadi.
Sebenarnya bukan hal buruk. Tapi cukup mengganggu.
Belum lagi dengan gejolak tubuh remajanya yang luar biasa. Heeseung tidak berhenti merasa frustrasi—hilang kontrol, bertindak bodoh dengan mengikuti maunya sendiri saat otaknya berusaha berpikir logis. Misalnya seperti sekarang.
Heeseung tidak henti melirik ponselnya. Menunggu balasan dari Jaeyun yang tak kunjung datang. Pesannya sejak tadi hanya dibaca, teleponnya tidak diangkat sama sekali. Itu membuatnya gila.
Ternyata seperti ini rasanya saat remaja kasmaran. Pusing sekali.
Seingatnya, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Masa remaja Heeseung dulu terlalu buruk dan carut-marut. Tidak ada ruang untuk perasaan semacam ini tumbuh. Yang dia pikirkan saat itu hanya satu: bagaimana caranya tetap hidup.
Dan kini, alasan mengapa semua itu terjadi malah membuatnya bergejolak tak kenal waktu. Jaeyun sialan itu -eh maksudnya kesayangan. Heeseung kadang suka bingung dengan perasaannya sendiri. Baginya sosok itu seperti dua entitas yang berbeda. Tidak peduli bagaimana Jaeyun di masa kini, kebenciannya pada sosok Jaeyun di masa lalu tetap tinggal dan melekat.
Dan jelas mereka berdua tidaklah sama, entah takdir yang mengubahnya atau memang sebenarnya keduanya adalah sosok yang berbeda.
Heeseung mencoba menghubungi Jaeyun sekali lagi. Mencoba peruntungan. Berharap kali ini Jaeyun mengangkat teleponnya. Mencari jawaban atas rasa khawatir yang tak kunjung reda.
Heeseung tahu Jaeyun mungkin marah—atau dalam prasangka tertentu Jaeyun malah tidak peduli.
Pertanyaan itu cukup sering muncul. Setiap kali Jaeyun bertingkah seakan tak tersentuh, Heeseung bertanya pada dirinya sendiri. Benarkah dia masih punya harapan? Atau Jaeyun hanya memanfaatkan ketulusannya?
Berkali-kali hatinya dibuat patah, sakit, dan kecewa. Namun Heeseung seperti gelap mata. Jaeyun selalu bisa membuatnya ingin kembali—mencoba lagi, meski tanpa jaminan apa pun.
Makin dipikir, makin keruh rasanya.
Heeseung bahkan baru tersadar saat panggilannya sudah masuk dan berlangsung delapan detik tanpa suara.
"Halo? Jaeyun?" panggil Heeseung. Suara di seberang sambungan masih senyap. Dia sampai memeriksa volume dan layar ponselnya, memastikan panggilan itu masih terhubung dan bersuara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
Fiksi PenggemarHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
