Pagi itu Dia bangun lebih awal dari biasanya. Sudah seminggu lebih dia terkurung di rumahnya. Dan tidak seperti biasanya dia bisa kabur ketika Ayahnya tidak di rumah, tapi kali ini tidak sama sekali. Bahkan hanya untuk menemui Bangchan yang menunggunya di depan pagar.
"Saya cuma mau ketemu teman saya sebentar" Jayun berujar dongkol pada empat penjaga yang langsung menutup aksesnya begitu ia melangkah keluar pintu.
"Maaf tuan, Tuan besar tidak memberi izin apapun untuk Tuan Jaeyun keluar" kata salah satu dari penjaga itu dengan kaku dan monoton, membuat Jaeyun muak.
"Saya cuma ambil barang" jelasnya cepat.
"Kami bisa bantu ambilkan untuk Tuan" lagi lagi jawaban templet itu terdengar.
Jaeyun mendengus kasar. Ia hendak membangkang saking kesalnya, namun saat kakinya bergerak menerobos barisan penjaga, beberapa orang di belakang sudah bersiap menghadangnya. Jaeyun menghentikan langkah, memutar otak lebih keras, sebelum akhirnya menyerah. Karena melawan di rumahnya sendiri tidak pernah berarti baik-apalagi jika Ayahnya sampai tahu.
Ia akhirnya membiarkan salah satu pengawal menemui Bangchan untuk mengambil barang titipannya. Begitu barang itu sampai di tangannya, Jaeyun langsung merebutnya tanpa memedulikan pengawal yang membungkuk sopan.
"Sory, gw lagi gk bisa keluar. Nanti gw teraktir kalo udah bisa nemuin lo"
"Santai Jake, lo kayak sama siapa aja anjir. Tapi, btw lo kampret sih kata gw. Rumah lo gedong Jirr. Lo anak konglo apa gimana? Gw kira lo gambel karna baju lo buluk banget. Setan emang, gk cerita cerita ya lo taii"
Jaeyun terkekeh mendengar celotehan temannya itu dari sambungan telpon. Kakinya melangkah santai menuju teras belakang. Dia duduk di salah satu kursi santai di pinggir kolam renang.
"Gw cuma anak tukang kebun" candanya.
"Gk percaya gw, mana ada anak tukang kebun di panggil 'tuan'. sialan emang lo"
"Serius gw anjir"
"Tai lah! Pokoknya nanti kalo mau traktir gw, minimal steak wagyu, ya!"
"Gegayaan lo hahaha. Lagian mana ada duit gw. Rokok aja gw masih ngutang sama lo"
"Nah, lo bayar 10x lipat gk mau tau gw"
"Sianjir"
"Lo kaya ya, setan"
"Matre lo"
"Harus, kapan lagi punya temen tajir. Btw sudah di lo kan barangnya?"
Jaeyun menggumam mengiyakan. Ditangannya kini ada bungkusan keresek hitam berisi barang titipannya yang susah payah Bangchan antarkan.
"Tenang aja, Erik gk akan tau itu gw ambil buat lo. Itu juga cuma numpuk di loker. Abis gedungnya di eksekusi, anak anak dipindahin sama dia ke tempat baru. Nanti gw kabarin deh sama lo lokasinya"
"Makasih"
Sambungan pun mati.
Sejenak Jaeyun terdiam dalam keabu abuan. Benda di tangannya ini jelas bukan miliknya tapi ada perasaan campur aduk bahkan hanya dengan melihatnya. Lorong gelap, pening yang mencekik, dan hangat yang menyebar perlahan.
Jaeyun menggeleng menyadarkan diri. Ini berbahaya namun dia seakan abai.
Sampai suara langkah kaki terdengar. Kantong kresek itu buru-buru disimpannya kedalam bajunya. Dia masuk kembali kedalam rumah dari arah jalan lain. Seperti maling yang tengah diam diam mencuri. Jayun langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.
Sama sekali tidak menyadari jika seseorang berhasil menangkap basah gerak geriknya.
Di depan pintu kamar, berdiri Taehyung dengan tatapan penuh selidik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
FanfictionHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
