"Mau cium lagi gk?"
Jaeyun memejamkan matanya frustasi. Malu, kesal, dan- rasanya ingin mengubur diri dalam dalam. Wajah Heeseung berada tepat di hadapannya, begitu dekat. Tak lupa juga senyum tengil yang luar biasa menyebalkan itu.
"Itu gw ngigau" serga Jaeyun, dia menarik wajahnya mundur.
"Oh, Ngigau. Ngigauain gw sampe sigitunya emang boleh? Mimpi apa sih sampe cuimnya rakus banget?" Dan Heeseung ikut bergerak mendekat. Tidak mengijinkan jarak sama sekali antara mereka berdua.
Bahkan saat Jaeyun menoleh mencoba kabur. Heeseung mengikutinya.
"Gw gk gitu" ucapnya sebal. Pria Shim itu melepaskan diri dari Heeseung dengan mendorongnya.
"Ya. Lo gitu, Yuni" Heeseung melipat tangannya santai. Bagi Heeseung, di hadapannya ini hanya bocah kecil denial yang sibuk menyangkal perasaannya karna gengsi. Remaja puber. Lucu sakali.
"Heeseung denger, tetap aja Kita gk mungkin-"
"Shustt"
Heeseung menarik Jaeyun dalam dekapannya. Membuat pria Shim itu jadi gagal melanjutkan kalimatnya.
"Biar jadi urusan gw. Kalo lo masih takut, gk tau harus apa. Biar gw yang usahain dan buktiin." Dengan lembut Heeseung membisikan kalimat itu. Mengusap halus punggung Jaeyun. "Lo duduk manis aja, Nikmatin dan rasain. Gw bakal buat apa yang lo pikir sulit itu jadi luar biasa mudah" sambungnya lagi penuh keyakinan.
Kata kata itu mengalun bagai mantar, bisikan penenang, dan pemantik harapan yang tumbuh mendesak di dada Jaeyun. Dia tidak ingin percaya, pahitnya kehidupan yang Jaeyun alami mengajarkan jika bahagia tidak pernah tercipta untuknya. Dan diantara dirinya dan Heeseung, hubungan apa yg bisa dia harapkan? Semua yang muncul di dadanya adalah segala sesuatu yang di tentang dunia.
Namun, Jaeyun melunak. Punggungnya melemas, dan sepenuhnya bersandar pada Heeseung.
"Lo cuma anak SMA Heeseung" Jaeyun mengeratkan pelukannya.
"Itu yang lo tau"
"Apa yang gk gw tau?"
"Kalo gw bilang, gw itu sebenernya-"
Telinga Jaeyun tiba tiba berdengung. Menusuk hingga membuatnya tidak dapat menangkap suara apapun.
"- lo bakal percaya?"
"Lo ngomong apa? Gw gk denger"
Heeseung tersenyum, dia mengeti sesuatu sekarang. Ada hal yg tidak bisa dia ungkap. Meski hanya seandainya atau bakan sebenarnya.
Dan dia memilih untuk tidak mengatakan lebih banyak. Mengulang dari awal dan membuat jalan hidup yang berbeda seperti sekarang sudah lebih dari cukup dari yang bisa dia harapkan dulu. Dan Jaeyun sudah seperti hadiah lotre yang tak pernah dia sangka sangaka.
....
.
.
.
Return (Antagonis)
By Js
Jayun duduk dengan punggung tengang disamping Heeseung. Nyonya Shim baru saja selesai menyajikan semangkok bubur di meja Jaeyun saat pemuda itu menarik tangannya dari genggaman Heeseung di bawah meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
Fiksi PenggemarHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
