Hari itu adalah ulang tahun kakaknya dan Jaeyun hanya berencana untuk meletakan hadiahnya di depan pintu kamar Taehyung. Sama seperti tahun tahun sebelumnya. Namun sebuah suara membuatnya diam lebih lama disana. Percakapan antara Ayah dan Kakaknya terdengar jelas dari luar.
Jaeyun belum pernah mendengar atau melihat Ayahnya bicara keras atau sampai memukul. Tidak pernah sekalipun, bahkan sejak awal dirinya menginjakan kakinya di rumah ini. Tapi malam ini berbeda, suara Ayahnya seperti diliputi kemarahan yang luar biasa.
Jaeyun melihat ada tas stik golf milik sang Ayah yang tergeletak didekat tangga, isinya berceceran seperti dibongkar paksa. Salah satu dari mereka pasti sudah dibawa keluar.
Jaeyun bisa mendengar suara tamparan yang tiada henti dan benturan benda keras dari dalam kamar kakaknya. Entah apa yang terjadi, namun jelas kini tanganya gemetaran.
".. bagaimana bisa Taehyung? Kenapa??Kamu adalah anak saya, kebanggaan saya. Jangan rusak itu dengan menjadi melenceng. Saya bisa buat anak laki laki itu mati di depan kamu kalau saya mau. Berhenti. Putuskan hubungan kalian. Buang jauh jauh perasaan menjijikan itu sebelum saya membuang kamu dan ibu kamu. Anak sialan"
Jaeyun hendak pergi, namun rintihan Taehyung membuat langkahnya berat. Jaeyun tidak tega, dia ingin menolong. Tapi tidak ada keberanian sedikitpun untuk melakukannya.
Ayahnya bukan seseorang yang bisa Jaeyun lawan. Dan lebih dari itu, Jaeyun menghargai Ayahnya jauh lebih tinggi dari siapa pun.
Dan malam itu, Jaeyun hanya berdiri di depan pintu, membiarkan semua itu terjadi di balik kayu yang memisahkan mereka. Tidak berbuat apa-apa. Tidak berkata apa-apa.
Diam-menjadikan rasa bersalahnya sendiri sebagai hukuman. Diam-sambil berharap rasa takut itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Dosa sang kakak dan kemarahan Ayahnya.
Namun
Bertahun tahun, kekosongan itu bersarang. Jaeyun hampir tidak memiliki siapa pun selain dirinya sendiri dan harapan akan kasih sayang nyata dari Ayahnya.
Kebencian Ibu tirinya dan penolakan dari Kakaknya. Dia menanggungnya sendirian berpegang pada satu kayakinan rapuh " selagi Ayahnya tidak kecewa padanya, itu sudah cukup"
Kesunyian yang dia telan setiap hari tanpa berani untuk mengeluh. Dia tidak merasa pantas bahkan untuk bersedih. Karena di pikirannya, kekacauan di keluarga ini adalah kesalahanya.
Tidak masalah baginya hidup seperti ini. Berkubang dengan dingin yang mencekik. Diabaikan, ditinggal, dan tak ada yang perduli. Lambat laun dia terbiasa juga, hatinya mati, membeku dan menjadi keras, bahkan untuk dirinya sendiri.
Dan Heeseung hadir. Memenuhinya dengan hangat. Mengusik hidupnya. Membakarnya seperti api.
Ciuman pertama itu - sebuah kecupan diam diam yang menghancurkan belenggu yang membekuknya selama ini, dan bersamaan dengan itu juga menamparnya pada kenyataan pahit, bahwa dia pun adalah seorang pendosa yang menjijikan.
Jaeyun terbiasa dengan ke kalutan yang tidak pernah berani dia tembus. Lari, lalu kembali tenggelam. Dan mati kembali.
Namun Heeseung menariknya lagi. Menuntunya bernafas, membuatnya berdetak. Menjadikannya hidup.
Jaeyun itu seperti bongkahan es di kutub utara dan Heeseung adalah musim panas. Mereka tidak mungkin bertemu untuk sebuah alasan apa pun.
Namun takdir bisa menjadi seperti air laut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
FanfictionHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
