Mungkin, ini bukan pertama kali bagi Bangchan melihat pertarungan brutal di hadapannya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Bulu kuduknya berdiri dan rasa ngilu berkeliaran di perutnya setiap pukulan keras itu menghatam Jaeyun bertubi tubi.
Keadaanannya parah sekali. Wajah Jaeyun sudah berdara darah, namun dia tidak tumbang meskipun beberapa kali lelaki itu tersungkur menerima serangan dari lawannya.
Pria mohak yang menjadi lawannya pun tak lebih baik dari Shim Jaeyun. Kepalanya berdarah dan giginya copot satu akibat seranga Jaeyun di awal pertandingan.
Apa yang di harapkan dari pertarungan jalanan seperti ini?
Jika tidak karena dia sudah memasanng taruhan besar untuk Jaeyun, Bangchan pasti sudah memilih keluar dari ruangan pengap itu untuk menarik nafas sejenak. Disana sesak sekali, setiap melihat pria Shimnya itu tersudut hampir KO rasanya seperti terkena serangan jantung.
Namun bukan Shim Jaeyun namanya jika tidak membawa kemenangan di setiap pertarungannya. Seperti yang di harapkan, pria mohak itu jatuh tidak sadarkan diri setelah kepalanya dihantam Jaeyun dengan kepalanya sendiri.
Suara teriakan penonton menggema, dan untuk kesekian kalinya Bangchan terpukau lagi dengan sebetapa tangguhnya seorang Shim Jaeyun itu.
"Lo hebat Je, lo keren! Sumpah demi tuhan gw pikir kali ini lo bakal mati. Lawan lo gila, tapi lo lebih gila. Anjaiiii... mantep banget lo Jake" Bangchan langsung menyambut Jaeyun dengan heboh begitu selesai ditetapkan sebagai pemenang yang kedua kalinya diatas ring. Dia bahkan tidak ragu untuk melepaskan jaketnya hanya untuk menutupi tubuh polos Jaeyun yang penuh dengan keringat dan bercampur darah.
"Habis ini masih ada pertandingan?" Masih dengan nafas terengah dan suara lemah Jaeyun berkata.
" Lo gila?"
"Sekali lagi. Gw masih kuat"
"Gak ada. Lo cukup hari ini. Erik gk akan biarin lo tarung lagi. Abis ini udah masuk kelas berat. Taruhannya udah nyawa." Bangchan menuntun Jaeyun menuju tempat duduk.
"Siapa yang turun?"
"Bang JK"
"Gw pengen lawan dia. Dimana Erik? Biar gw yang ngomong" Pandangan Jaeyun mengedar. Ditengah jalannya yang sudah sempoyongan dia mencari sosok itu.
Jaeyun masih belum puas. Dia ingin dipukul lebih keras lagi. Pikirannya masih kusut, dadanya masih bergemuruh risau. Dan hatinya masih kacau. Ciuman menjijikan antara dirinya dan Heeseung semalam membuatnya mual berkali kali.
Setiap kali memikirkannya membuat darahnya panas.
" hati-hati!" Bangchan langsung memegain Jaeyun yang hampir limbung. Membuatnya jatuh tepat dalam dekapannya.
Jaeyun hampir kehilangan kesadarannya. Keadaanya ini sangat menyebalkan. Jaeyun benci saat tubuhnya sendiri tidak singkron dengan maunya.
" begini mau turun lagi ke arena? Lo bisa bener bener mati Je" Bangchat mendengus sebelum akhirnya tertawa. Namun dorongan kasar seketika membuatnya hampir jatuh. Saat dia mampu mencerna situasi, Jaeyun sudah di seret pergi oleh seseorang yang sempat memberinya tatapan jijik.
Orang itu tidak asing, tapi Bangchan tidak bisa mengingatnya jelas. Maka sebagai teman Jaeyun yang baik, merasa ada sasuatu yang tidak beres. Dia buru buru bangkit dan mengejar kepergian Jaeyun dan orang itu.
"Kenapa gk angkat telpon gw? Seharian gk bisa di hubungi. Pesan gw juga gk lo bales. Lo tau gw khawatir kan?"
Lorong itu sepi, semua orang masih sibuk dengan pertarungan yang baru saja di mulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
FanfictionHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
