Jaeyun selalu ingat bagaimana aroma ini begitu ia rindukan. Juga usapan lembut di kepalanya. Mungkin karena demamnya terlalu tinggi sampai ia berhalusinasi—seolah Ibu tirinya tengah memeluknya sambil mengulang kata-kata sayang yang sudah lama tidak ia dengar. Tanpa sadar, tubuhnya mengerat pada pelukan itu ketika rasa nyeri dari suntikan menembus kulitnya.
“Sakit…” suaranya nyaris tidak terdengar.
Tapi Heeseung mendengarnya. Bibirnya terangkat kecil, melihat betapa manja preman sekolahnya itu di pelukan ibunya.
“Saya akan resepkan obat untuknya. Demamnya akan cepat turun kalau istirahatnya cukup. Nyonya tidak perlu khawatir,” terang sang dokter. Ia merapikan alat-alatnya sebelum memberikan resep pada asistennya.
Nyonya Shim menghela napas panjang, lega—seperti separuh beban yang menahan dadanya akhirnya terangkat. Ia mengusap rambut Jaeyun dan mengecup keningnya penuh sayang. Tatapannya lembut, tapi jelas menyimpan kesedihan melihat Jaeyun dalam keadaan seperti ini.
“Maafin Mami ya, sayang. Mami gak mungkin pilih kasih. Kamu juga anak kesayangan Mami. Cepet sembuh ya, hm?”
Jaeyun menikmatinya. Tenggelam dalam rasa nyaman yang sebenarnya ia tahu—palsu. Tapi tetap hangat. Tetap membuat dadanya sesak.
Heeseung baru saja selesai mandi dan keluar dengan setelan baju dan celana panjang milik Jaeyun. Sedangkan si empunya duduk di kursi belajarnya sambil bersandar lesu kebelakang menunggui Heeseung.
Matanya berkedip lelah seperti mengantuk namun tak bisa dibawa tidur.
"Kenapa gk tuduran di kasur sih?" telapak tangan dingin itu menyentuh kening Jaeyun yang membuatnya langsung menatap ke atas.
Sejenak Jaeyun hanya diam, menatap Heeseung yang ada di atasnya dalam keheningan. Bibirnya bergerak ragu. Seperti ingin mengatakan sesuatu. Dan Heeseung menantinya dengan sabar. Terlarut dam kebisuan yang dia nikmati sendiri. Wajah Jaeyun berada di bawahnya dengan mata sayu, terlihat seperti–
"Kenapa gk tidur di kasur hm?" Tanya nya sekali lagi
"Beneran gk papa kan lo nginep? Orang tua lo ngebolehin? Gk marah kan?" Jaeyun akhirnya bicara, namun malah membahas hal lain, membuat Heeseung menarik senyum tipis.
Dia tidak tahu pasti, tapi setiap kali Jaeyun melempar topik dengan bahasan lain, Heeseung sepenuhnya sadar, jika ada yang sedang coba Jaeyun tutupi.
"Kalo gk di bolehin, apa mending gw balik ya?" Jahil Heeseung. Kening Jaeyun langsung merengut tidak senang. Dia bangkit dan meninggalkan Heeseung.
"Becanda~" serga Heeseung terkekeh puas. Dia mengekor di belakang Jaeyun, sengaja mengacak rambut pria yang lebih pendek darinya itu. Menikmati lirikan sebal dari mata lelah Jaeyun
Jaeyun meneguk obat dari piring kecil di atas nakas, meminum semua air di gelasnya lalu berbalik lagi menghadap Heeseung tatapan malas.
"Kalo lo mau balik, balik aja sana" usir Jaeyun.
"Nanti lo nangis" ejeknya
"Gk"
Dan Heeseung tanpa aling aling mendorong pundak Jaeyun hingga membuatnya duduk di atas kasur. Memaksanya berada dalam posisi tertidur. Lalu menyelimutinya.
Jaeyun sudah siap memberontak namun tubuhnya menadak malas bergerak. Seperti boneka tanpa tenaga. Setelahnya, Jaeyun mendadak diterpa rasa kantuk yang luar biasa. Dia berakhir pasrah. Memandangi Heeseung yang memutari ranjang dan mengambil posisi tidur di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
Fiksi PenggemarHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
