bab 8

1.1K 96 17
                                        


Heeseung tidak yakin apa yang dia lakukan saat ini. Seharusnya dia lega mengetahui bila Jaeyun bahkan bisa tumbang karena ulahnya. Tapi nyatanya tidak.

" Kami tidak yakin dengan apa yang terjadi, tapi cctv menunjukan jika ini hanya perkelahian antar siswa bukan tindak pembullyan.."

Heeseung bahkan tidak terlalu perduli dengan percakapan samar yang ia dengar di ruang kepala sekolah. Dia lebih memilih abai, bersandar pada dinding dibelakangnya dan memejamkan matanya lelah. Pikirannya sedang di tempat lain. Tangannya masih bergerat dan seragamnya masih bernoda darah Jaeyun.

Jaeyun di bawah ke rumah sakit dan Heeseung sedang menunggu hukuman.

" Jangan bilang ke ayah atau mama. Dan jangan sampai Niki tau. Biar Saya  urus semuanya sendiri" Heeseung menolak ajakan supirnya untuk pulang.

Dia memilih segera mengganti seragamnya dan masuk kembali ke dalam kelas. Seakan tidak terjadi apa apa Heeseung kembali melanjutkan jam sekolahnya.

.....


.

.

Return (Antagonis)
By Js

Ponselnya berdering lagi, untuk kesekian kalinya dia lebih memilih membalik dan mematikannya.

Pandangannya jatuh begitu jauh pada lapangan bola di luar jendela tempat dia duduk. Disana ada beberapa yang sedang bermain bola, disisi lainya juga ada yang sedang bersantai. Dunia seakan berjalan pada jalurnya tanpa perduli apa pun.

Heeseung teringat bagaimana saat itu dia meminta ampun pada mereka setelah di pukuli tanpa rasa kasihan sedikit pun. Tidak ada yang perduli, menolongnya atau bahkan sekedar kasihan dengannya.

Hari-hari yang dia lalui begitu berat, tidak satu dua kali dia berakhir di tolet sekolah dengan baju basah dan luka lebam. Tidak juga sekali dua kali Heeseung harus kebingungan mencari barangnya yang tiba tiba hilang, atau bahkan dirinya yang menjadi mainan seperti orang bodoh merangkak dan berguling sesuai dengan perintah mereka.

Bangku dan mejanya pun tidak absen untuk dipenuh dengan coretan dan kata-kata hinaan. Persis sama, seperti saat ini Heeseung bisa melihat isi coretan itu pada mejanya.

Miris sekali, sesulit apa hari yang dia lalui pada saat itu, dunia tetap berjalan seperti biasanya. Guru akan datang mengajar, memeberi meraka nilai bagus jika sesuai harapan, dan memandang rendah ketika kurang istimewa. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang perduli, dan tidak ada yang penting tentang dirinya.

Heeseung mengasihani dirinya sendiri.

" sujud lo. Menggonggong bego. Jilat sepatu gw"

Candaan itu sangat mengganggu, Heeseung merasa kemarahannya meluap begitu besar saat mendengarnya. Membuatnya hilang kendali dan melempar ponselnya pada kerumunan murid di sudut ruangan dengan seorang tengah berlga seperti anjing di bawahnya.

" lo bisa diem? " suaranya nyaris membentak. Dengan raut jengah Heeseung membiarkan atensi seisi kelas berbalik padanya.

Heeseung dapat melihat tatapan-tatapan itu. Mereka sama menakutkannya seperti dulu, namun sekarang keadaannya berbalik. Bahkan ketika dia tidak melakukan apa-apa,  tidak ada yang berani menyentuhnya.

Tidak ada yang sanggup berurusan dengannya. Mereka hanya berakhir memyudahi kegiatan mereka barusan dan menghindari kontak mata dengan Heeseung yang seperti menguliti mereka hidup-hidup.

Rasanya membosankan, ini terlalu mengganggu pikirannya. Orang orang seperti mereka bahkan bisa berubah tunduk hanya karena tahu siapa Heeseung sekarang.

Return (Antagonis) || HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang