Seperti apa yang dikatakan Jaeyun, dia benar benar tidak muncul di ujung koridor seperti biasanya dia akan menunggu Heeseung keluar dari kelasnya. Hanya ada beberapa anak buahnya yang Heeseung temui disana.
Biasanya akan ada korban baru setiap hari untuk menjadi mainan mereka, dimana pada sisi lainya Jaeyun akan menonton dan sesekali ikut mengolok oloknya. Atau jika orang itu sial Jaeyun akan meludah di wajahnya lalu berakhir dipukuli oleh yang lainnya. Namun tidak banyak yang bisa mereka perbuat ketika Jaeyun tidak ada disekitar mereka.
Bahkan ketika mereka bersitatap dengan Heeseung sekarang, secepat kemudian, itu teralih begitu saja. Mengisyaratkan ketidaknyamanan yang Heeseung yakini jika itu adalah rasa takut terhadapnya.
" ma bro Lee Heeseung~" dan suara familiar itu membawa Heeseung kembali dari lamunannya.
Beomgyu menyergap Heeseung kedalam pelukannya dari belakang. Diiringi dengan suara pantulan bola dan derapan langkah kaki yang lain.
" tumben lo sendiri. Biasa sama temen lo"
" Shim Jaehyun mana?" Beomgyu menambahi, melirik yang lainya lalu tersenyum penuh maksud.
Heeseung menimang untuk menjawab dan berakhir menggedikan bahunya acuh. Masih sangsi dengan gerombolan ini.
Heeseung khawatir. Lantas dia memilih jalan lebih dulu, membiarkan yang lain mengekor di belakang tanpa ada sautan lebih lanjut.
Latihan tempo hari, Heeseung di sidang dengan banyak pertanyaan prihal mengapa dan kenapa Jaeyun yang selalu ada di sekitarnya. Semua orang mungkin merasa terancam namun jelas Heeseung bisa menangkap tensi berbeda yang mereka lempar begitu keras untuk sosok yang sebenarnya juga Heeseung kutuk keberadaannya.
Banyak cerita baru yang Heeseung dengar tentang Pria Shim itu. Salah satunya tentang Beomgyu yang ternyata pernah dibuat sekarat dan hampir di keluarkan dari sekolah oleh Jaeyun. Entah ada masalah apa antara mereka berdua. Yang lain ikut bersaksi jika Jaeyun itu seperti kesetanan setiap kali berhadapan dengan orang yang bermasalah dengannya. Banyak diantara mereka pernah menjadi korban dari Shim Jaeyun.
Awalanya sama, mereka pikir mereka itu teman. Namun lambat laun sikap congkak Jaeyun akhirnya muncul dan mulai suka memukul mereka tanpa sebab.
Heeseung di minta untuk menjaga jarak dengan Jaeyun. Beomgyu bilang dia khawatir jika Heeseung akan bernasib sama seperti mereka.
Jujur, Heeseung cukup tersentuh mendengarnya. Kepedulian itu membuatnya merasa dianggap. Mereka seperti kumpulan orang senasib dan Heeseung jelas tau jika dia pun adalah salah satunya.
Bahkan jauh lebih parah dari apa yang bisa mereka pikirkan.
Namun pertanyaan lain muncul ketika mengingat apa yang Beomgyu dan kawanannya itu ikut lakukan padanya dulu. Bagi Heeseung berada disisi Jaeyun ataupun Beomgyu dan kawanya tidak ada yang lebih baik. Mereka semua adalah ancaman, semacam bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatanya selain dirinya sendiri.
Maka itu, Heeseung tidak ingin membuat yang lain mengerti tentang apa yang tengah terjadi padanya dan apa yang dia perbuat.
Dia hanyalah titik keabuan yang belum memilih akan menjadi lebih pekat dan gelap atau menjadi merah semerah darah. Semua bisa menjadi predator untuknya kapan saja. Dan Heeseung mengerti jika dia pun tentu bisa menjadi predator untuk siapa saja pula.
Tak terkecuali.
Maka ketika Heeseung merasakan hantaman cukup keras pada punggungnya, dan mendapati tatapan Beomgyu yang berubah. Heeseung mengerti.
" Aturan pertama. Cuma pemimpin yang boleh jalan di depan. Lo lupa Seung?"
Heeseung mendecih dalam hati. Menyimpan kepalan tanganya yang menguat kedalam saku celana. Dia menahan sekuat tenaga agar raut wajahnya tidak mengisyaratkan apa apa. Membiarkan Beomgyu mencubit pipinya dengan lancang dan tersenyum setelah mengusak rambutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
FanfictionHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
