Heeseung tidak pernah benar-benar mengerti-mengapa kini hari-harinya terasa berjalan begitu lambat dan cepat di saat yang berbeda.
Seperti pagi ini, waktu seolah membeku ketika ia berdiri di halte sekolah, menanti kedatangan Jaeyun. Atau saat matanya terus-menerus melirik jam dinding, berharap waktu istirahat segera tiba hanya agar bisa makan siang bersama Jaeyun. Bahkan ketika ia menunggu pemuda itu menyelesaikan latihan klub futsalnya, Heeseung menghabiskan banyak stok sabar hanya demi bisa berbincang-meski obrolan mereka selalu penuh umpatan dan saling sindir.
Namun, segalanya terasa terbalik saat ia benar-benar bersama Shim Jaeyun. Heeseung selalu membenci bunyi bel yang terdengar terlalu cepat, atau kedatangan bus yang terlalu sigap membawa Jaeyun pergi dari pandangannya.
Lalu malam kembali datang, dan Heeseung harus melewatinya dengan rasa gundah-hanya untuk menanti pagi yang terasa terlalu lama untuk kembali terbit.
" bentar doang Jae. Gw jamin lo gk akan nyesel"
Dari semua penantian itu, yang dia dapati justru hanya luapan emosi yang dia sendiri tidak mengerti dari mana asalnya.
Saat baru saja keluar kelas, Heeseung mendengar samar percakapan di koridor. Riki dan Jaeyun sedang berdiri saling berhadapan. Jaeyun bersandar di dinding dengan tangan terlipat, sementara Riki berdiri tepat di hadapannya.
Ada kilatan aneh ketika mata mereka bertemu. Heeseung tidak menunggu lebih lama. Ia memilih berbalik dan pergi meninggalkan Jaeyun dengan wajah suram.
Jujur ia sedikit menyesal. Namun dia jelas tidak bisa menerima apa yang baru saja dilihatnya.
Dan Heeseung berakhir mengantri makan sendiri dan harus berhadapan dengan Beomgyu serta kawananya sesama dari basket.
" welcome back ma broo Leee" sapa Beomgyu dengan tawa mengejek. Heeseung tidak ambil pusing. Dia menyambut sapaan yang datang dari semua arah.
“Join terus lah. Tanpa lo, formasi kita jadi kayak kurang, ya gk?” Beomgyu merangkul bahunya dan melirik teman-temannya yang lain.
Heeseung hanya berdeham, tapi itu cukup membuat mereka bersorak senang. Beomgyu langsung mengacak rambutnya dengan semangat, diikuti yang lain juga.
Dan untuk sesaat, keresahan Heeseung mereda. Ia tersenyum kecil, membiarkan dirinya larut.
Apalagi saat mereka berakhir di ruang loker lapangan basket- untuk melanjutkan rutinitas mereka.
Heeseung merasakan luapan kesenangan setiap kali bola basket itu dia lempar dan mengenai target. Dia bahkan ikut tertawa dengan yang lain saat teriakan itu terdengar makin merintih.
Wajah cupu sialan yang menggantikan tempatnya dulu.
Penuh luka dan lebam. Persis sama seperti dirinya. Wajah kesakitan dan ketidak berdayaan itu menarik gejolak lain yang memenuhi dirinya dengan euphoria baru.
Seperti, sesuatu yang lama hilang darinya.
Heeseung seakan mulai mengerti, kenikmatan seperti apa yang dulu mungkin dirasakan para perundung seperti Beomgyu dan Jaeyun.
Gejolak menggembirakan yang tidak membutuhkan alasan. Mungkin ini bukan sekedar tentang dominasi belaka. Kontrol atau kuasa.
Kuasa untuk melukai tanpa perlu pembenaran. Melihat korban meringis dan memohon-seakan menjadi angin segar di tengah panasnya bara dendam yang membakar dalam dirinya.
Heeseung sangat menyukainya.
Dia seperti lupa, atau malah tidak perduli. Nasib baru yang tengah dia ciptakan mungkin saja berdiri di atas kehancuran hidup orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
FanfictionHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
