bab 28

586 48 39
                                        

Jaeyun melempar tatapan sinis pada sosok pria dihadapannya itu. Dia berdiri kokoh menghadang Heeseung yang ingin masuk dengan merentangkan kedua tangannya; menutup akses didepan pintu kamarnya.

"Apa apaan tadi" semprot Jaeyun

Tuan Shim baru saja turun beberapa menit yang lalu. Meninggalkan kedua remaja itu di lantai atas, tanpa mengira jika suasananya mendadak tegang setelahnya.

"Apanya?" Tanya Heeseung tidak mengerti.

"Jadi pengajar gw. Hebat lo begitu? Berapa hari ngilang gk ada kabar. Sekarang tiba tiba muncul kayak gini."

Heeseung tertawa, dia berjalan mendekat. Tangannya begitu lancang menyisir helaian rambut Jaeyun yang berantakan. Tidak merasa terusik sedikit pun dengan amarah Jaeyun.

"Bokap lo yg telpon bokap gw langsung buat ngajarin lo. Gw bisa apa? Gk mungkin nolak kan?" Wajahnya kembali datar.

"Jadi lo mau nolak?" Jaeyun refleks membalas, nada suaranya cepat, seperti keceplosan.

Heeseung menaikkan satu alis. "Menurut lo?"

Nada rendah itu membuat Jaeyun mendadak ragu. Dia segera merasa tidak enak saat menyadari situasinya. "Lo -boleh nolak kalo lo keberatan." Tangan yang sebelumnya terangkat kini turun. Dia mendadak menciut.

"Lo masih marah sama gw?" Kata kata itu nyaris tidak keluar. Jaeyun menggigit bibirnya takut. Di hadapannya kini ada Heeseung yang beberapa hari lalu dia tolak mentah mentah perasaanya. Wajar harusnya- jika bertemu dengannya jadi hal yang berat bagi Heeseung.

Tapi kan....

Sejenak suasana hening, Heeseung hanya menatapnya dalam diam. Membuat Jaeyun merasa makin bersalah.

"iya-"kata Heeseung akhirnya

Kan!

Jaeyun menunduk lesu mendengarnya. Rasa bersalahnya naik lagi. Dia hendak menjelaskan sekali lagi namun tiba-tiba kedua pundaknya menjadi berat.

"Gw-"

"30%" potong Heeseung

"Hah?" Jaeyun mendongak, bingung. "Sisa marahnya?" tebaknya.

"Kalo itu 70%" Heeseung santai, bahunya naik turun sedikit.

Jaeyun cemberut refleks.

"Sekarang lo minggir. Biarin gw nunggu di dalam kamar lo sebelum marah gw nambah jadi 100%" Heeseung membalik tubuh Jaeyun lalu mendorongnya masuk.





















"Ck! Ngambekan lo, kayak bocah"

"Oke naik jadi 80% gw marahnya"

"Dih!!"























Suara air gemericik jatuh. Heeseung masih terpaku pada pintu kamar mandi yang tertutup didepanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

Kamar ini cukup sesak, minim sirkulasi udara dan juga gelap. Membuatnya tidak tahan.

Heeseung memilih berdiri dari ranjang yang dia duduki sejak tadi. Tirai hitam yang menutup jendela tinggi itu dia tarik. Membuat cahaya masuk dan menerangi seisi ruangan luas itu. Sekarang suasanya jauh lebih baik.

Heeseung bisa melihat semuanya lebih jelas sekarang.

Matanya berkeliling memeriksa setiap sudut yang ada. Foto foto di dinding, meja belajar yang kosong, dan rak sepatu futsal. Termasuk dengan tumpukan buku yang menyandung kakinya. Itu keluar dari kolong tempat tidur Jaeyun. Masih anyar, seperti belum pernah disentuh sama sekali. Dan jika dipasati lebih teliti, itu buku paket mereka tahun lalu.

Return (Antagonis) || HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang