bab 25

614 75 70
                                        

Serangan bertubi-tubi membuat Jay hampir ambruk. Tubuhnya dipaksa berdiri oleh beberapa tangan yang mencengkeram kasar. Kacamatanya sudah entah ke mana, wajahnya lebam dan tak berbentuk. Ia tampak begitu menyedihkan.

Di sisi lain, Beomgyu dan kawan-kawan justru makin beringas. Bola basket menghantam tubuh Jay tanpa henti, lalu disusul tendangan berulang yang menginjak harga dirinya dalam-dalam.

Lapangan itu menjadi saksi bisu-neraka kecil yang Beomgyu ciptakan dengan penuh tawa.

"Lo berani ngadu? Gue bikin lo bisu, cupu. Liat aja nanti." Leo menekan kepala Jay yang tersungkur, seolah ingin menancapkan kehinaan sampai ke tulangnya.

Tawa yang lain pecah, riuh, memuakkan. Mereka begitu menikmati setiap detik penderitaan Jay, sementara isakan lemah pemuda itu terdengar bagai musik komedi murahan di telinga mereka.

Menyedihkan.

Heeseung hanya berdiri di tepi lapangan, memantulkan bola di tangannya tanpa niat melempar. Matanya kosong, tapi dalam hatinya bergolak. Adegan itu seperti cermin-Jay adalah dirinya di masa lalu. Setiap pukulan yang mendarat di tubuh Jay justru membuat Heeseung ingin menghantam teman-temannya sendiri, bukan ikut serta dalam kebiadaban itu.

Namun emosinya masih berantakan. Malam sebelumnya, ia dihancurkan oleh sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Heeseung pergi ke gym dengan pikiran kalut, mencoba menghubungi Jaeyun yang tak kunjung membalas. Pelatih yang biasanya menemani tiba-tiba mendapat panggilan darurat saat mereka sedang latihan. Secara kebetulan, nama Jaeyun disebut berulang kali- mendegar itu, cukup untuk membuat Heeseung penasaran dan akhirnya mengikuti jejak pelatihnya.

Harap harap cemas. Heeseung tidak yakin jika itu betulan Jaeyun yang dia maksud, meski begitu dia berharap ity nyata karena bertemu dengan Jaeyun baginya seperti air ditengah dahaga gurun pasir.

Dan di sanalah ia melihatnya.
Jaeyun. Turun dari arena tinju, lalu berpelukan mesra dengan pria lain.

Seolah seluruh dunia runtuh di hadapan Heeseung.

Yang lebih menghancurkan bukan hanya pengkhianatan itu, melainkan cara Jaeyun menatapnya-tatapan dingin, penolakan yang dilempar seperti sampah menjijikkan. Heeseung tenggelam dalam amarah yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.

Hantaman keras di lengannya membuatnya kembali tersadar. Ia menoleh, mendapati Beomgyu sudah berada di sampingnya.

Heeseung menghela napas panjang. Pandangannya tajam, dingin, dan menusuk. Ia tahu apa yang Beomgyu inginkan.

"Sisanya gue serahin sama lo. Mainan kita juga kangen pukulan dari lo, Seung," bisik Beomgyu sambil menepuk pundaknya.

Heeseung maju dengan langkah santai. Ia menarik Jay yang hampir tak berdaya, lalu menghantam tubuh itu tanpa ampun-pukulan demi pukulan yang meledak dari amarahnya sendiri.

Hingga tiba-tiba-

Pintu lapangan terbuka keras.

Jaeyun muncul. Tatapan matanya sedingin es, bertemu langsung dengan pandangan Heeseung-lalu melirik sekilas Jay yang babak belur. Pandangannya berkeliling, menghitung jumlah orang yang ada, seolah tengah memperkirakan situasi.

Tanpa ragu, Jaeyun menginjak gagang pel di samping pintu, mematahkannya jadi dua. Potongan kayu itu ia genggam erat, berubah jadi senjata sederhana.

" Kalian pesta gk ajak gw nih?" bibir pucatnya melengkung, menyeringai bengis.

....
















.

Return (Antagonis) || HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang