Hari ini adalah tepat 10 tahun kepergian ibunya. Shim Jaeyun tidak terkejut sama sekali ketika rumahnya malah berisi pesta kecil dari kolega ayahnya. Dia sudah menduga bila tidak ada satupun orang dirumahnya yang peduli tentang itu, termasuk wanita kepala empat yang entah sejak kapan sudah duduk diatas ranjangnya bersama wanita lain dan sedang sibuk membicarakannya.
" yaampun nak Jaeyun apa kabar. Bibi lama gk liat kamu loh. Sudah besar ya sekarang"
Tidak banyak yang bisa Jaeyun lakukan selain langsung menunduk sopan dan berdiri canggung di pintu kamarnya.
" makin ganteng, gen nya bagus loh. Anak kamu ini mirip banget sama ayahnya jeng" wanita itu terlihat antusias memuji Jaeyun. Begitu senang ketika tau jika anak temannya itu sudah tumbuh dewasa. Sangat santun dan tampan.
Keluarga kaya memang sangat berbeda
" kelas berapa kamu?"
" kelas 2 SMA tante" Jaeyun tersenyum kaku. Melirik pada wanita lain yang terus memandanginya dengan tatapan muak.
" rencananya nak Jaeyun mau kuliah di mana?"
Seketika Jaeyun terdiam. Tidak ada dalam hal apa pun yang membuat Jaeyun tertarik di dunia ini. Hidupnya sejauh ini tidak pernah punya rencana, mau kemana, menjadi apa, atau hal lainnya. Jaeyun hampir tidak penah pusing memikirkan akan dibawa kemana hidupnya.
" saya gk.."
" jaeyun kami ini, katanya mau ambil bisnis, rencana di luar negeri jeng. Anaknya excited banget sama Australi" nyonya Shim menyela.
Dan Jaeyun hanya bisa tertawa dalam hati ketika wanita berstatus sah ibunya itu mulai berceloteh mengarang bebas tentang dirinya pada temannya. Tidak ada keterkejutan karena ini sudah sangat biasa baginya.
"Dasar anak gk tau diuntung. Bisa bisanya kamu malu maluin saya. Harusnya kamu ikut mati sama ibu kamu yang pelacur itu. Bikin saya marah marah aja kerjaannya" nyonya Shim menyudahi acara makan malamnya dengan amarah yang besar setelah melempar piring yang masih penuh dengan hidangan kearah Jaeyun. Yang sayangnya sedikit meleset.
Tidak banyak respon dari Jaeyun, dia hanya diam dan mengusap wajahnya yang kotor terkena sisa makanan lalu melanjutkan makan malamnya sendirian seperti biasa. Meski rasanya menyedihkan Jaeyung tidak terlalu pusing untuk memikirkannya. Dia adalah anak yang tidak pernah di inginkan di rumah ini. Jadi tidak ada yang harus di permasalahkan tentang bagaimana dia harus diperlakukan disini.
Fasilitas yang di berikan ayahnya sudah lebih dari cukup untuk bisa dia nikmati.
Sejujurnya, dia tidak pernah ingin dilahirkan ataupun hidup. Namun baginya terlalu sulit dan takut juga untuk mati.
....
.
.
.
Return (Antagonis)
By Js
Seperti biasa tidak ada satupun yang berani semeja dengannya. Meski kantin selalu ramai dan padat, deretan bangku panjang yang dia duduki tidak pernah diisi satupun oleh siswa lain. Dan Jaeyun tidak pernah merasa kecil hati. Baginya cukup bagus jika tidak memiliki satu teman pun. Tidak ada beban yg harus dia tanggung.
Menunya hari ini sedikit asin, sebenarnya Jaeyun bukan seorang pemilih tapi dia cukup merasa kesal ketika makanan yang dia makan tidak punya rasa yang benar. Dia akan memukul meja dengan perasaan kesal. meskipun mulutnya tetap mengunyah hingga makanan di pirinnya habis. Mengabaikan setiap pasang mata yang meliriknya dengan wajah takut. Jaeyun akan segera pergi ketika perutnya sudah terisi dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
FanfictionHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
