bab 21

616 66 43
                                        

Jaeyun mengenalnya sebagai bocah polos yang sangat doyan jajan. Dan sebenarnya tidak banyak juga pertemuan antara mereka berdua, hanya beberapa kali. Namun mengingat jika status bocil ini adalah adik dari Heeseung yang dia kenal begitu lugu dan menggemaskan, membuat Jaeyun jadi tidak mampu melayangkan tinjunya pada anak SMP —yang kini tengan mengkerut takut dengan susu pisang dihadapannya.

Kalau dipikir-pikir, kenapa juga dia harus repot pusingin bocah ini?

Ya, kecuali karena isak samar Niki yang mulai terdengar dan menarik perhatian orang-orang dewasa yang lewat.

" Diem. Gk usah nangis!" Bentak Jaeyun. Dia menendang kursi yang Niki duduki. Niatnya ingin membuat bocah itu takut dan segera menutup mulutnya. Namun sial, bocah itu malah terisak makin keras.

"Bu-bukan punya gw bang, sumpah. Gw cuma di suruh. Gw gk tau apa apa" rengek Niki membela diri.

Mendengar kata kata Niki, jelas Jaeyun mana percaya. Dia sudah sangat hapal dengan alasan-alasan clasik bocah tanggung seperti ini. Mana lagi, wajah Niki masih bersih dari noda kekerasan. Kalau diliat dari tampilannya pun, sepertinya —kalaupun ada pembullyan, ya pembully nya itu tentu si bocah tengil ini.

Jaeyun nyaris menggeplak bocah itu lagi karena tak kunjung berhenti menangis.

Niki mengelak, dan langsung menahan isakanya mendadak saat medapat delikan marah dari Jaeyun.

Bagaimanapun Niki masih anak anak, Jaeyun harusnya lebih sabar. Jadilah dia akhirnya menarik nafas panjang.

"Kalau lo mau gue percaya lo cuma disuruh, minimal tampang lo culun dikit. Ada memar, bonyok lah. Ini mah kelakuan bandel tapi muka sok lugu." Dia menopang dagunya dan menatap tajam. "Gue kelihatan bego gitu mau lo tipu, bocil?"

"Dan lo bau rokok," tambahnya. Niki langsung tertunduk, tak bisa membela diri.

Jaeyun pikir kenakalannya waktu SMP sudah sangat diluar nalar. Meski begitu dia sama sekali tidak menyentuh rokok bahkan bolos sekolah.

Entah apa yang bocil ini pikirkan sampai berani terjerumus di kedua hal itu.

"Denger ya, kalau lain kali gue liat lo masih begini, gue gebukin lo beneran. Terus gue kasih tahu abang lo. Kalau perlu orang tua lo sekalian!" nada suaranya naik. "Lo masih SMP, Cil. Lo mikir apa sih sampe ngerokok segala?!"

Niki hanya diam. Bahkan saat Jaeyun mengantarnya sampai depan gerbang sekolah, bocah itu tidak mengucap sepatah kata pun. Hanya jalan cepat menjauh tanpa menoleh.

Jaeyun sempat ingin pergi begitu saja, namun seketika langkahnya tertahan. Perasaan tidak enak mencuat dari dalam dada. Meskipun yakin yang dia lakukan benar, melihat wajah adik Heeseung yang kini murung begitu... membuat hatinya ngilu.

Ia menyusul Niki, lalu menarik pergelangan tangannya.

"Biar gue lihat. Luka enggak?" Jaeyun meneliti telapak tangan Niki. Hanya lecet sedikit. Dia menghela napas lega.

"Gk pp ini, sembuhnya cepet kalo goresan kayak gini doang." Jaeyun bergumam lalu menepuk halus kepala bocah itu.

"Sekolah yang bener, Cil." Ia mengacak rambut Niki lalu mencubit pipinya pelan, seperti kakak iseng pada adiknya. Lalu berbalik pergi. Meninggalkan Niki yang terpaku pada sosoknya dengan bayangan yang sama, seperti kilasan yang pernah ia lihat sebelumnya.

"Bang!" panggil Niki tiba-tiba.

Jaeyun menoleh. "Hm?"

Sesaat, hembusan angin meniupkan gemuruh aneh yang entah asalnya dari mana. Wajah Niki masih dalam raut datar yang tak bisa Jaeyun tebak rasanya. Tatapan lugu, dan diam yang tak kunjung bersuara.  Alis bocah itu tiba tiba berkerut, melihatnya lalu gerbang sekolah bergantian seakan mengatakan sesuatu yang tak pernah bisa dia ucap.

Return (Antagonis) || HEEJAKETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang