Ini adalah pekan terakhir sebelum tahun ajaran baru di mulai. Tahun ketiga bagi Jungwon. Yang berarti masa jabatannya akan segera berakhir di awal tahun nanti. Fokusnya akan berganti dengan seleksi masuk universitas. Hal yang sudah membuatnya muak belakangan ini.
Soal pelajaran Jungwon sudah hapal, Dia sudah hatam. Baginya itu tetap sama meski sudah di ulang berkali kalipun. Maka, ketika yang lain tengah sibuk memulai kelas lebih dulu di musim libur, Jungwon memilih absen dan menghabiskan waktunya dengan kegiatan lain, misalnya ikut bermain dengan Riki dan kawananya. Selain karena dia dijamu dengan begitu hormat, disana ada Jay juga- si cupu yang lagi lagi menjadi bulan bulanan kelompok itu.
"bego lo! buruan masuk sana. Gw hajar juga lo lama lama" kepalanya di pukul lagi dan Jay hahya tetap diam.
"heh cupu. rokok sama bir jangan lo lupain. Abisin semua isi dompet lo. Ngerti?" Riki melepas rangkulan kerasnya pada kepala Jay lalu menepuk nepuk pipinya main main.
Jungwon melihatnya, berbagi tatap dengan pemuda itu. Namun semua berlalu begitu saja tanpa niat membantu. Jungwon hanya tersenyum tipis melihat Jay yang dengan bodohnya lagi lagi didorongan kasar menjauh dari mereka.
"Tolol" unpat Jungwon dalam hati. Dia tidak pernah mengerti mengapa begitu lamban otak pemuda Park itu. Bahkan di pola yang berulang, saat dia mengulurlan tangan berkali kali, Jay-si dungu itu- tetap sama saja. Menyedihkan, lemah, dan mudah ditindas. Seperti tidak pernah mengalami perkembangan dan selalu membuat Jungwon repot.
Saat Jungwon tengah sibuk mengawasi Jay yang baru masuk ke dalam minimarket, tiba-tiba seseorang melintas. Terlalu cepat hingga membuatnya hampir tertabrak. Beruntung dia menarik langkahnya lebih cepat sehingga pengemudi skuter itu yang justu malah terjatuh di hadapannya.
Riki siap memukul karena tidak terima, Namun Jungwon menahanya. Hanya dengan lirikan mata, Riki berhenti dengan amarahnya. Semudah itu.
Jungwon memang punya kendali khusus di antara anak anak berandalan itu. Tidak aneh jika jabatan Ketua Osisinya selama ini berjalan tanpa masalah dan gangguan penting. Jungwon bisa mengatasi semunya dengan mudah. Tidak sulit untuk mengatur apapun disekitarnya.
" Lo gk papa?" Jungwon mengulurkan tangan pada pengemudi sekuter yang terjatuh tadi. Berniat membantunya. Dalam sekali lihat, dari perawakan dan wajahnya, Jungwon bisa menilai jika pemuda itu mungkin lebih muda mereka. Jadi tidak perlu bersikap berlebihan. Selain itu, Jungwon juga benci kekerasa.
Apalagi di keadaanya sekarang, pemuda itu jelas lebih sial dari padanya. Ada goresan luka pada kulit seputih susu itu. Membuat Jungwon makin tidak tega.
"Gk papa, biar gw bantu" ulangnya sekali lagi. Jungwon hendak berinisiatif menarik sendiri tubuh pengemudi itu untuk berdiri. Namun lenganya tiba tiba di cekal. Digenggam kuat seperti sebuah tarikan
"Ketemu" wajah lugu itu beruba tegang. Jungwon mendadak merasakan gejolak tak nyaman. Dan sebelum sempat bisa berfikir, pemuda itu tiba tiba berdiri dan langsung menarik kerahnya kasar. Membuat Jungwon reflek mendorong dan akhirnya terjatuh
Jungwon mematung. Kalung bandul hijau yang sudah lama dia gunakan telepas dan jatuh di tanah. Dia buru buru memungutnya.
Riki dan kawananya bertindak cepat dengan menahan pemuda pengemudi skuter itu, lalu menyeretnya menjauh dari Jungwon dan memkulinya.
Kali ini Jungwon membiarkan mereka. Dalam kecemasan yang tiba tiba menyeruak didada, Jungwon menggenggam erat kalungnya. Meyimpanya juah jauh dari jangkauan siapa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Antagonis) || HEEJAKE
Fiksi PenggemarHeeseung muak dengan peran protagonis yang dia jalani. Ketika kematiannya membawanya kembali ke masa lalu, Heeseung memutuskan untuk mengambil peran antagonis dan bersiap untuk membalaskan dendamnya pada Shim Jaeyun, pelaku utama dari kekerasan yang...
